Tips Praktis Cegah Kekerasan Seksual pada Anak

Yatin Suleha    •    Jumat, 05 Jan 2018 20:07 WIB
keluarga
Tips Praktis Cegah Kekerasan Seksual pada Anak
Biasakan untuk terbuka dengan anak tentang orang-orang di sekitar, ajak mengobservasi dan peduli pada perubahan perilaku siapa pun di lingkungan. (Foto: Pixabay.com)

Jakarta: Awal tahun ini kita dikabarkan berita yang membuat geram seputar dunia anak, yaitu adanya kekerasan seksual terhadap puluhan anak di Tangerang. Lalu bagaimana kita mengantisipasinya?

Najelaa Shihab, pendidik, pendiri dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, sekaligus pendiri Pesta Pendidikan memberikan tips bagaimana untuk mencegah kekerasan seksual pada anak.

Karena pencegahan adalah yang paling utama, kita patut memberikan arahan pada anak-anak kita. Seperti yang ditulis oleh Najelaa Shihab dalam rilis yang diterima oleh Medcom.id, berikut ini beberapa hal yang bisa membuat anak-anak kita berdaya:

1. Mengikuti kata "tidak" dari si kecil
Biasakan untuk mengikuti kata "tidak" dan "stop" dari anak; misalnya saat ia menolak dicium atau minta berhenti saat digelitiki. Apakah anak belajar mengendalikan dan menghormati kenyamanan tubuhnya akan ditentukan oleh reaksi orangtua. Jangan bilang "sedikit saja", atau "masak gak mau dicium". Bayangkan bila kalimat yang sama diucapkan oleh orang yang berbahaya. 

2. Jelaskan bagian tubuh
Contohkan anak sejak dini untuk membedakan bagian tubuh yang aman dan tidak aman untuk disentuh. Tunjukan sentuhan aman saat jabat dan cium tangan, tidak pada sembarang orang. Jelaskan sentuhan tidak aman saat memegang bagian tubuh yang tertutup rapat. 

(Baca juga: Keluarga Ujung Tombak Pencegahan Kekerasan pada Anak)

3. Belajar mengenali intuisi
Biasakan anak untuk mempercayai intuisinya terhadap bahaya. Ada situasi dimana anak merasa khawatir saat bertemu orang tertentu atau melewati jalan baru.

Jangan larang anak mendengarkan yang dirasakan. Anjurkan anak berpikir cara untuk lebih berhati-hati, menunggu sampai ada orang yang menyebrang berbarengan, tidak duduk di taksi sebelum orangtua masuk duluan, dan seterusnya. 


(Contohkan anak sejak dini untuk membedakan bagian tubuh yang aman dan tidak aman untuk disentuh. Foto: Pixabay.com)

4. Latihan teknik sederhana
Latih spesifik kemampuan anak menghadapi bahaya di tempat umum; berteriak "tolong" dan bukan "bunda atau mama" akan membuat orang di sekeliling lebih waspada, memperhatikan letak pintu dan stop kontak setiap masuk ke ruangan baru, dan berbagai teknik sederhana lainnya. 

5. Membangun jaringan sosial
Bangun perlahan jaringan sosial (lebih dari satu orang) yang ikut menjaga keamanan anak-seperti nenek dan kakak yang bisa menjadi tempat bercerita.

Kenyataan yang menyedihkan tapi sering terjadi, orangtua seringkali bukan pihak yang tahu pertama tentang berbagai hal, sehingga anak perlu beberapa figur lain yang bisa "membela"nya.

6. Ajarkan tentang rahasia
Ajarkan anak tentang rahasia, apa informasi yang boleh disembunyikan dari orangtua, dan mana yang harus diceritakan walaupun diminta seseorang untuk tidak membocorkan.

"Rahasia baik, itu kejutan yang kalau ibu tahu pasti senang-misalnya hadiah ulang tahun. Rahasia buruk bila bikin ketakutan dan malu kalau nanti ketahuan ibu."

7. Tumbuhkan disiplin 
Tumbuhkan disiplin diri anak tanpa ancaman dan sogokan. Pelaku kekerasan seksual dengan sengaja memilih anak-anak rentan yang mudah ketakutan, kecanduan pujian dan mencari imbalan untuk melakukan sesuatu. 

8. Biasakan untuk terbuka
Pelaku kekerasan biasanya orang yang dikenal, menggunakan teknik "grooming atau perawatan" untuk mendekatkan diri ke anak dan orangtua. Biasakan untuk terbuka dengan anak tentang orang-orang di sekitar, ajak mengobservasi dan peduli pada perubahan perilaku siapa pun di lingkungan.

Orangtua bisa memulai percakapan tentang pengalamannya dalam pertemanan. "Pengasuhan memang urusan kita semua. Mari berbagi cara untuk menjaga anak-anak kita," pesan Najelaa Shihab.















Najelaa Shihab
Pendidik, pendiri dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, dan pendiri Pesta Pendidikan.
(Foto. Dok. Twitter Najelaa Shihab)









(TIN)