Pilihan Karier Pengaruhi Kelanggengan Pernikahan

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 28 Feb 2018 17:09 WIB
karier
Pilihan Karier Pengaruhi Kelanggengan Pernikahan
(Foto: Independent)

Jakarta: Statistik menunjukkan bahwa 42 persen pernikahan berakhir pada perceraian dan 34 persen pasangan berpisah sebelum merayakan ulang tahun pernikahan ke-20.

Dari berbagai faktor perceraian, ternyata pilihan karier juga memberi pengaruh cukup signifikan.

Situs karir Zippia, berdasarkan Data Sensus Amerika Serikat baru-baru ini menemukan bahwa pekerja di bidang tertentu memiliki angka perceraian yang lebih tinggi ketika usia menginjak di atas 30 tahun.

Contohnya, mereka yang memilih bekerja sebagai pengawas militer memiliki presentase sebesar 30 persen mengalami perceraian. Beberapa pekerjaan lain yang juga rentan mengalami perpisahan adalah mereka yang memiliki pekerjaan sebagai logistik, teknisi servis otomotif dan mekanik, pelaku operasi taktis militer dan senjata udara.

Faktanya, karier di militer menyumbang tiga dari 10 besar dalam daftar yang menyebabkan perceraian. Artinya, bekerja di bidang ini dapat meningkatkan risiko.perceraian sekitar 15-30 persen. Mengapa demikian?

Meskipun jawabannya tidak sepenuhnya jelas, Zippia mengemukakan bahwa penyebab perceraian pada pekerjaan tersebut akibat stres yang disebabkan oleh layanan aktif ditambah dengan tekanan untuk 'menyebar, sering berpindah, dan kesulitan untuk mengintegrasikan kembali kehidupan bersama pasangan saat  pulang dari bertugas.

Sebuah studi terpisah yang diterbitkan tahun lalu di Journal of Population Economics sepakat bahwa bahwa penyebaran militer memiliki dampak negatif pada pernikahan.

Dalam kasus ini, ditemukan bahwa tingkat perceraian meningkat secara signifikan saat pasangan menghabiskan waktu lama jauh dari rumah.

Sebagai perbandingan, analisis data oleh Zippia mengungkapkan bahwa sebenarnya ada beberapa karier yang kurang berpengaruh pada berapa lama pernikahan Anda berlangsung.

Beberapa pekerjaan dengan tingkat perceraian terendah adalah pekerja agama, dokter gigi, dan ahli patologi bahasa.



 


(DEV)