3 Tipe Pekerja di Indonesia

   •    Senin, 08 Jan 2018 11:32 WIB
karier
3 Tipe Pekerja di Indonesia
Ilustrasi. (Shutterstock)

Jakarta: Memiliki pekerjaan boleh jadi merupakan harapan semua orang. Tetapi ada pula mereka yang nyaman dengan tak memiliki pekerjaan.

Faktanya, ada orang yang memang benar-benar semangat untuk mengumpulkan pundi-pundi uang dengan bekerja, ada juga yang biasa saja.

Motivator Jamil Azzaini dalam I'm Possible, Minggu 7 Januari 2018, menyebut, sedikitnya ada 3 tipe pekerja di Indonesia berdasarkan riset yang dilakukan Gallup.com di sejumlah negara Asia.

"Ada orang yang kerjanya enjoy, terikat, tapi jumlahnya hanya 8 persen. Mereka memiliki keterlibatan tinggi dalam pekerjaan, yang menikmati pekerjaan, dan biasanya kelompok kecil ini menguasai yang lain," ujarnya.

Tipe kedua, kata dia, adalah orang yang bekerja hanya sesuai dengan uraian tugas dan tanggung jawab. Yang penting kualifikasi tercapai, gaji tidak dipotong, datang ke kantor hanya sebagai kegiatan rutin sehari-hari.

Jamil mengatakan tipe pekerja kedua ini adalah yang paling banyak, sekitar 77 persen. Dapat dikatakan, pekerja semacam ini mirip dengan 'robot' yang hanya mengerjakan apa yang menjadi tugasnya saja sebagai bagian dari rutinitas.

"Dan ketiga adalah yang paling bahaya, jumlahnya 15 persen, keterlibatannya rendah tapi sering memberi pengaruh negatif," katanya.

Pengaruh negatif yang dimaksud Jamil adalah ketika pekerja tersebut tidak menikmati pekerjaan, dia akan menghasut pekerja lain untuk memberontak. Misalnya, tak mengerjakan tugas bahkan memprovokasi pekerja lain untuk ikut mengundurkan diri.

"Kalau ada temannya semangat kerja, dia akan menimpali 'tumben semangat, enggak usah terlalu semangat penghasilan sama' dan ini jumlahnya 15 persen."

Jamil mengatakan untuk membuat seseorang mau bekerja, perlu alasan. Ketika seseorang punya alasan untuk bekerja, mereka akan terdorong untuk menjadi ahli di bidangnya dan tak lagi mengeluhkan dan menyalahkan Senin sebagai hari untuk kembali memulai pekerjaan.

Alasan untuk bekerja juga tak hanya menghindarkan seseorang dari kebiasaan mengeluh, namun juga mampu membiasakan diri untuk melakukan kerja '3 as'; kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas.

"Karena orang yang punya alasan untuk bekerja dan orang yang ahli itu biasanya dikejar-kejar rezeki. Sebaliknya orang yang tidak ahli justru sibuk mengejar rezeki," katanya.

Cara atau strategi baru yang bisa dilakukan ketika bekerja menurut Jamil adalah punya alasan sehingga mendorong diri untuk terus belajar dan berbenah. Energi yang akan ditularkan ke orang-orang di sekitarnya pun positif, bukan negatif.

"Jadi ketika kita menemukan alasan untuk bekerja, kita akan lebih enjoy, lebih asik, menikmati, tak banyak mengeluh dan wajahnya cerah, jauh-jauh dari penuaan," pungkasnya.




(MEL)