Beragam Manfaat Menggendong Anak

   •    Senin, 09 Oct 2017 17:12 WIB
ibu dan anak
Beragam Manfaat Menggendong Anak
Ilustrasi. Para ibu yang menggendong anak dengan posisi end shape. (Foto: Eumom)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pernahkah Anda mendengar pekan menggendong sedunia? Ya, babywearing international ini sudah lama diperingati oleh para orang tua di seluruh dunia. Khusus di Indonesia, pekan menggendong sedunia baru dikenal masyarakat setelah hadirnya internet.

Diperingati pada pekan pertama Oktober setiap tahunnya, pekan menggendong sedunia bertujuan untuk mengenalkan kepada masyarakat bahwa menggendong bukan hanya sebagai sarana membangun ikatan antara orang tua dan anak. Lebih dari itu, kegiatan menggendong membantu anak lebih sehat dan mampu membangun kepercayaan diri anak sebagai bekal di masa depan.

"Menggendong anak dalam sehari paling tidak 30 menit akan membentuk ikatan antara orang tua dan anak. Ketika anak besar kepercayaannya kepada orang tua juga ada," kata Pakar Menggendong Farida Arum Rahmasari, dalam Newsline, Senin 9 Oktober 2017.

Sayangnya, kegiatan menggendong anak sering kali terhalangi oleh kepercayaan bahwa terlalu sering menggendong anak akan membuat mereka menjadi 'bau tangan'. Bau tangan adalah kondisi dimana anak tidak nyaman ketika diturunkan dari gendongan.

Namun, Farida meyakinkan bahwa 'mitos' tersebut tidak ada. Menggendong anak justru membuat mereka merasakan kehangatan orang tua, merasakan aman, dan nyaman serta tak menghilangkan stimulasi yang bisa anak dapatkan.

"Dengan menggendong justru akan banyak stimulasi yang diperoleh anak misalnya si ibu mau pergi kemana dia tahu arah depan, belakang, dan mengenal bau-bauan. Seperti itu justru bagus," kata Farida.

Meski begitu, Farida mengatakan menggendong tidak asal mengangkat anak dan menyanggahnya menggunakan alat seperi babycarrier atau kain jarik. Menggendong anak rupanya punya teknik khusus yang harus diketahui orang tua.

Umumnya orang tua menggendong anak dengan posisi cradle, atau posisi seperti menidurkan anak di antara dada dan perut. Posisi ini diyakini kurang optimal karena menghalangi pertumbuhan sendi pinggul anak dan sedikit menghalangi jalan napas anak.

"Yang paling disarankan dan memang kita sosialisasikan adalah posisi end shape, ini yang optimum. Anak menghadap orang tua dan posisi pantat lebih rendah dari pinggul, ini akan membantu pertumbuhan sendi pinggul anak," kata Farida.

Sementara itu, Psikolog Novita Tandry mengatakan kegiatan menggendong bukan hanya membangun ikatan antara orang tua dan anak. Lebih dari itu, anak yang sering digendong orang tuanya memiliki kecerdasan bahasa yang dia pelajari dari orang tuanya.

"Saat anak didekap oleh ibunya, yang dia dengar adalah detak jantung ibunya. Mereka punya kecerdasan, speech delay atau keterlambatan bicara sangat jarang terjadi pada anak yang sering digendong," jelas Novita.




(MEL)