Permainan Sederhana Ini Bantu Anak Pelajari Makanan Sehat

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 19 May 2017 18:15 WIB
perkembangan anak
Permainan Sederhana Ini Bantu Anak Pelajari Makanan Sehat
Para psikolog dari University of Exeter menemukan bahwa anak-anak yang dibiarkan bermain game membuat pilihan yang lebih sehat saat diminta memilih makanan. (Foto: Dynamite News)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah penelitian menemukan bahwa permainan yang bersifat mengasah otak dapat membantu anak-anak untuk lebih cerdas dalam memilih makanan sehat.

Para psikolog dari University of Exeter menemukan bahwa anak-anak yang dibiarkan bermain game membuat pilihan yang lebih sehat saat diminta memilih makanan. 

Permainan yang diciptakan sendiri tersebut mencakup bereaksi pada gambar makanan sehat dengan cara memencet tombol dan tidak melakukan apa pun saat makanan tak sehat muncul.

"Tampilan makanan seperti cokelat dapat mengaktifkan pusat penghargaan dalam otak sekaligus menurunkan aktivitas pada bagian kontrol diri," ujar pemimpin studi Lucy Porter.

Ia menjelaskan, pelatihan mereka bertujuan untuk memberitahu orang-orang bahwa ada cara membuat anak memilih makanan sehat yang menyenangkan.

(Baca juga: Berapa Lama Waktu yang Tepat Bagi Anak Bermain Game?)

"Kebanyakan promosi kesehatan bergantung pada pendidikan dan kekuasaan yang membutuhkan banyak waktu, pekerja, dan uang. Namun permainan kami berpotensi sebagai sampingan dari isu tersebut yang diciptakan dengan peralatan yang mudah dan gratis untuk digunakan keluarga," tambahnya.



Para peneliti melakukan dua percobaan yang melibatkan lebih dari 200 anak sekolah berusia 4-11 tahun dimana mereka ditunjukkan makanan yang sehat dan tidak sehat. Di samping gambar, terdapat wajah katun tersenyum pada makanan sehat dan wajah sedih pada makanan tak sehat.

Anak-anak diminta menekan tombol ketika melihat wajah bahagia dan tak melakukan apa pun saat wajah sedih muncul. Setelah itu, mereka diminta melakukan permainan belanja dimana mereka harus memilih beberapa barang dalam waktu satu menit.

"Kami tidak melihat perputaran total yang mendukung pilihan makanan sehat, namun terjadi peningkatan dari 30 menjadi 50 persen pada jenis makanan yang dipilih pada anak yang melakukan pelatihan otak," ujar Porter. 

Ia menambahkan, usia tidak berpengaruh dalam bermain karena anak berusia berapa pun, bahkan empat tahun, sudah bisa merasakan manfaat bermain game.

Menurutnya, permainan mudah tersebut bukanlah tentang mempelajari sesuatu secara sadar, namun bagaimana merespons dengan cepat. Beberapa orang tak akan mudah beradaptasi pada hal seperti itu, namun pada dasarnya permainan tersebut sifatnya tidak mencuci otak.







(TIN)