Tak Lancar Menyusui Dapat Memicu Depresi

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 13 Apr 2018 12:49 WIB
depresi
Tak Lancar Menyusui Dapat Memicu Depresi
Banyak ibu mulai menyusui tetapi membutuhkan dukungan masyarakat untuk membantu mereka mengatasi tantangan yang mungkin mereka hadapi. (Foto: Jon Flobrant/Unsplash.com)

Jakarta: Sebanyak 10-20 persen ibu baru mengalami gejala depresi postpartum (DPP), seperti sedih, putus asa, lekas marah, insomnia dan ketidakmampuan untuk menjaga diri dan/atau bayi. Durasi gejala tersebut juga beragam, bisa beberapa minggu hingga bulan. 

Meski demikian, sebuah penelitian menemukan cara untuk mengatasi gangguan tersebut agar ibu tetap bisa maksimal dalam merawat si kecil.

Sebuah penelitian yang menyurvei lebih dari 1000 orang tua di Inggris menemukan, 80 persen dari partisipan mengaku bahwa proses menyusui yang tak sukses atau sakit adalah penyebab utama gejala DPP. 

"Para ibu baru perlu didorong untuk mencari tahu penyebab menyusui tak lancar dan menyadari bahwa banyaknya tekanan, dari tenaga profesional atau teman sebaya bisa memberi efek lebih berbahaya, bukan sebaliknya," tukas konsultan psikiter dan psikoterapis orang tua dan anak Dr Kathryn Hollins. 


(Sebuah penelitian yang menyurvei lebih dari 1000 orang tua di Inggris menemukan, 80 persen dari partisipan mengaku bahwa proses menyusui yang tak sukses atau sakit adalah penyebab utama gejala DPP. Foto: Luma Pimentel/Unsplash.com)

(Baca juga: Cara Mudah Melancarkan Produksi ASI)

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), lebih dari 81 persen ibu mulai menyusui saat lahir.

Namun, banyak dari mereka yang berhenti lebih awal dari yang direkomendasikan, meskipun lebih dari setengah bayi masih menyusui pada 6 bulan. Hanya 30,7 persen menyusui hingga bayi berusia 12 bulan.

“Banyak ibu mulai menyusui tetapi membutuhkan dukungan masyarakat untuk membantu mereka mengatasi tantangan yang mungkin mereka hadapi di rumah sakit, ketika mereka pulang, atau setelah mereka kembali bekerja," tulis CDC dalam situs resmi. 

Beberapa dukungan tersebut diantaranya program pendidikan menyusui, praktik perawatan bersalin yang ditingkatkan di rumah sakit, dukungan teman sebaya dan profesional untuk ibu; dan ruang yang cukup dan peralatan untuk menyusui atau mengekspresikan ASI di tempat kerja dan pusat perawatan anak.







(TIN)