Apakah Tinggi Badan Memengaruhi Kebahagiaan Hubungan Suami-Istri?

Dhaifurrakhman Abas    •    Selasa, 18 Dec 2018 14:32 WIB
keluarga
Apakah Tinggi Badan Memengaruhi Kebahagiaan Hubungan Suami-Istri?
(Foto Ilustrasi: Anthony Tran/Unsplash.com)

Jakarta: Defenisi pasangan ideal buat seorang istri tentu bermacam-macam. Salah satunya pasangan memiliki badan yang tinggi.

Lantas mengapa tinggi badan dianggap sebagai parameter pasangan ideal? Kitae Sohn, peneliti dari Konkuk University di Korea Selatan menyebut, suami yang memiliki badan lebih tinggi dari istrinya cenderung pernikahannya lebih bahagia. 

Para peneliti menarik kesimpulan ini setelah menganalisis data yang dikumpulkan dari 7.850 responden perempuan. Hasilnya, responden yang menikah dengan suami yang lebih tinggi memiliki hubungan keluarga lebih harmonis. Berbeda dengan responden yang tidak memiliki perbedaan tinggi badan dari suami mereka. 

"Kalau ditanya apakah mereka lebih bahagia, Jawabannya iya," kata Kitae Sohn, yang juga menjabat sebagai Asisten Profesor di Konkuk University, Seoul, Korea Selatan, seperti dikutip Times of India.

Klik di sini: Manfaat Jahe bagi Tubuh Anda dan Cara Mengonsumsinya

Sohn bilang parameter pemilihan tinggi badan oleh para responden terjadi secara naluriah. Lelaki yang memiliki postur badan tinggi menggambarkan kekuatan dan keperkasaan. 

"Hal ini menawarkan para responden perlindungan yang lebih baik. Yang pada akhirnya memengaruhi keputusan yang diambil dalam keluarga," sambungnya. 

Penelitian serupa dilakukan David Ruth dari Rice University dan Ellen Rossetti dari University of North Texas. Hasil serupa dengan apa yang diteliti oleh Sohn.

Penelitian tersebut menunjukkan prefelensi tubuh tinggi berkaitan dengan perlindungan dan rasa keamanan buat perempuan. Seperti diungkapkan pada tulisan, ‘Does Height Matter?".

Dalam tulisan itu, para responden mengungkapkan perasaan aneh jika memiliki suami yang memiliki tubuh lebih pendek, ketimbang diri mereka.

"Jika kita melihat pada evolusi, laki-laki bertugas untuk berburu makanan dan menawarkan perlindungan kepada keluarganya. Semakin kuat pria itu, ia dianggap lebih baik ketika melaksanakan tugasnya. Mungkin alasan evolusi memengaruhi pilihan itu," kata Sohn

Meski begitu, dewasa ini, peran sosial yang dimainkan oleh suami dan istri telah banyak mengalami perubahan. Suami bukanlah satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga, dan istri tidak lagi bekerja menjadi ibu rumah tangga. 

Penelitian ini dianggap belum bisa menjelaskan apakah evolusi masih berlaku menjadi alasan pernikahan yang bahagia, ketika istri tidak lagi mencari perlindungan. Atau sebaliknya, ketika suami memilih melakukan pekerjaan rumah tangga.

Lawan Faktor "U" Agar Tetap Sehat dan Produktif



(FIR)