Tantangan Brand Lokal Menembus Pasar Streetwear Internasional

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 22 Jun 2018 18:24 WIB
keluarga
Tantangan Brand Lokal Menembus Pasar Streetwear Internasional
Lima brand lokal akan berpartisipasi dalam ajang pameran streetwear internasioanl Agenda Show pada akhir Juli 2018 di California, Amerika Serikat. (Foto: Dok.Elha.us)

Jakarta: Lima brand lokal akan berpartisipasi dalam ajang pameran streetwear internasioanl Agenda Show pada akhir Juli 2018 di California, Amerika Serikat. Meskipun membanggakan, streetwear lokal masih perlu berbenah. 

Deputi Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia Simandjuntak mengungkapkan masih ada beberapa pekerjaan rumah untuk membuat streetwear lokal bisa menembus pasar internasional, meskipun kualitas pakaian sudah bagus. 

"Tantangannya adalah bagaimana agar cerita tersampaikan untuk konsumen. Artinya, meskipun ini jeans seperti pada umumnya, tetapi ada karakter khusus," tukasnya dalam konferensi pers, Jumat 22 Juni 2018. 

Karakter tersebut nantinya akan membuat brand tersebut memiliki gambaran yang dibangun hingga sampai ke pasar global. 

Kemudian, tantangan kedua adalah standarisasi ukuran. Ketika suatu brand lokal ingin merambah ke pasar global, diperlukan adaptasi ukuran. 

"Kalau di Asia, biasanya ukuran lebih kecil, jadi perlu ada penyamaan agar bisa dikenakan (secara internasional)."


(Lima brand lokal akan berpartisipasi dalam ajang pameran streetwear internasioanl Agenda Show pada akhir Juli 2018 di California, Amerika Serikat. Meskipun membanggakan, streetwear lokal masih perlu berbenah. Foto: Dok.Elha.us)

(Baca juga: 5 Selebritas yang Namanya Didaulat Jadi Produk Fesyen)

Di satu sisi, kurator lokal Khairiyyah Sari juga mengungkapkan bahwa streetwear masih dipandang sebelah mata di Indonesia. Kebanyakan orang yang masih awam di dunia fesyen cenderung berpikir bahwa fesyen Indonesia hanya berkutat di tradisional dan wanita saja. 

"Streetwear di Indonesia sudah ada sejak tahun 90-an. Sayangnya tak ada yang mempromosikan," pungkasnya pada kesempatan yang sama. 

Padahal, setiap brand streetwear tersebut telah memiliki pangsa pembeli masing-masing dengan beberapa diantaranya dengan tingkat penjualan di atas rata-rata. 

"Di Stellar Festival kemarin, ada brand lokal yang bisa menjual barang mencapai Rp400 juta dalam satu hari," ia memberi contoh. 

Dari sisi pelaku, Raven Navaro Pieter selaku co-founder brand lokal Elhaus, salah satu brand lokal yang berpartisipasi dalam Agenda Show 2018, merasa bahwa produk lokal sulit menembus pasar internasional karena image branding.

Ia memberi contoh dimana warga AS cenderung memilih suatu barang dari asal negara. 

"Misalnya, produk dari Asia akan perlu usaha keras untuk menyaingi produk Jepang, karena masyarakat sana sudah yakin dengan negara itu," terangnya. 





(TIN)