Tiada Hari Tanpa Kebaya ala Lia Nathalia, Bukti Cinta Indonesia Sepenuhnya

Yatin Suleha    •    Selasa, 24 Apr 2018 16:56 WIB
komunitas
Tiada Hari Tanpa Kebaya ala Lia Nathalia, Bukti Cinta Indonesia Sepenuhnya
Lia Nathalia berpose di Balai Kota dengan teman-teman dari Perempuan Berkebaya Bogor. (Foto: Dok. Lia Nathalia/Facebook Lia Natalia)

Jakarta: Salah satu busana khas Indonesia adalah kebaya. Nama kebaya sebagai pakaian tertentu telah dicatat oleh Portugal saat mendarat di Jawa.

Sudah sangat lama kebaya Jawa seperti yang ada sekarang juga telah dicatat oleh Thomas Stamford Bingley Raffles pada tahun 1817. Dan salah satu yang tetap konsisten memakainya adalah Lia Nathalia.

Terhitung sudah empat tahun Lia konsisten memakai kebaya untuk berbagai kegiatan di luar rumah. Apa dan bagaimana cerita di balik ia mengenakan kebaya? Dan mengapa ia melakukannya? Medcom.id berkesempatan mewawancarainya.


(Bersama dengan teman-teman Paguyuban Chattra Kebaya Bandung. Foto: Dok. Lia Nathalia/Facebook Lia Nathalia)

Alasan di Balik Memakai Kebaya

Cerita diawali saat ia sedang trip untuk acara Dieng Jazz Festival di tahun 2014 bersama teman-temannya. Saat itu ia janjian untuk memakai dress code kebaya, walau menemui kendala karena Lia hanya membawa dua kebaya saja dengan kain yang hanya bermodalkan pinjam dari teman ternyata ia menemukan keasyikan di saat itu ketika memakai kebaya.

"Sepanjang sore sampai malam di Dieng saya tidak menemukan kesulitan apa pun. Bahkan hanya sekali diajarkan memakai kain saya langsung bisa. Dan uniknya saya tidak merasakan kedinginan," papar Lia.

Setelah itu perempuan yang berprofesi sebagai editor di Jakarta Globe ini pun diajak untuk menaiki Gunung Prau yang jaraknya sekitar 200 meteran lagi dari lokasi tempat mereka berkumpul, namun tetap dengan dengan menggunakan kebaya. 

"Saat itu saya merasa ternyata pakai kebaya itu tidak seribet yang dipikirkan kok. Dan saat itu juga saya berpikir bahwa zaman dahulu berarti nenek moyang kita itu berkain dan berkebaya untuk melakukan banyak hal, misalnya naik-turun gunung, ke sungai, ke sawah, dan melakukan hal lainnya," terang Lia.

Dengan kondisi transportasi yang masih minim, Lia mengenang kebaya yang selalu dikenakan oleh nenek moyang kita. "Sementara waktu itu masih susah transportasi kan. Nah sekarang saya yang tinggal mudah menjangkau transportasi kok saya bilang ribet, kok saya cemen ya?" papar Lia. "Sejak saat itu saya menchallenge diri saya untuk terus berkebaya melakukan semua hal. Karena apa sih yang enggak mungkin, bisa kok dengan menggunakan kebaya," tegas Lia lagi.

(Baca juga: Kebaya Cerah Iriana Widodo)


(Lia berpose bersama dengan teman-teman Paguyuban Chattra Kebaya Bandung. Foto: Dok. Lia Nathalia/Facebook Lia Nathalia)

Bukti Cinta Indonesia

Saat pulang ke Jakarta, Lia menjajal kebaya untuk bekerja, menaiki bus Trans Jakarta, angkot, menaiki ojek online, berjalan kaki, ternyata ia merasa aman dan nyaman tanpa ada hambatan yang berarti.

"Saat itu banyak orang yang kaget terutama teman-teman di kantor. Atau banyak sekali orang yang bilang, 'mau kondangan ya?' ya, itu wajar saja. Karena masih banyak orang yang memakainya ketika acara-acara tertentu saja," ungkap Lia.

Dengan memakai kebaya, Lia mengatakan bahwa ini adalah salah satu langkahnya mengembalikan lagi kebaya pada tempatnya.

"Buat saya ini bukan hanya sebagai fesyen yang hanya dipakai sekali-kali. Dan kebaya itu memiliki arti setelah ditelusuri sejarahnya merupakan sebuah statement simbol perlawanan perjuangan pada masa perjuangan Belanda dan Jepang," ungkap perempuan yang pernah menelurkan buku Kebaya Indonesia ini. 

Kebaya sebagai fasyen sehari-hari bagi Lia juga merupakan sebuah statement bahwa "berkebaya adalah Indonesia." "Ini adalah budaya saya (Indonesia). Kita enggak perlu tunggu orang mengklaim baru kita kemudian panik. Kita sendiri yang harus melestarikan itu dengan menggunakan sesering mungkin. Kalau dilihat sesering mungkin, tidak ada alasan untuk tidak menjadi budaya kita," papar salah satu pendiri komunitas Perempuan Berkebaya ini.


(Lia bersama dengan Paguyuban Chattra Kebaya Bandung. Foto: Dok. Lia Nathalia/Facebook Lia Nathalia)

Komunitas Perempuan Berkebaya

Kecintaannya pada kebaya ia akui juga bukan karena semata-mata ibu Kartini memakai kebaya. "Saya memakai kebaya bukan karena siapa-siapa, dan buat saya kalau orang bicara soal Kartini kemudian identik dengan perempuan harus pakai kebaya salah juga. Bajunya Kartini memang pakaiannya saat itu memang seperti itu," imbuh Lia.

Karena menurut Lia peran Kartini sendiri melakukan terobosan pada budaya patriarki sangat luar biasa pada masa itu.

"Karena banyak perempuan yang berjuang dalam kemerdekaan tidak menafikkan tugas mereka. Dan satu hal legacynya yang luar biasa adalah beliau membaca dan menuangkannya dalam tulisan yang dalam. Dan itu pola pikir yang luar biasa."

Dan sebagai wadah terus melestarikannya juga Lia menggagas sebuah komunitas yaitu Komunitas Perempuan Berkebaya. Perempuan Berkebaya adalah komunitas pecinta dan pengguna kebaya juga busana Indonesia lainnya, mendukung pelestarian budaya Indonesia.

Sejak awal berdiri 4 Desember 2014 hingga sekarang, komunitas yang anggotanya berasal dari berbagai latar belakang dan profesi ini sudah berkembang sampai ke beberapa kota. Selain Jakarta, juga sudah terbentuk Komunitas Perempuan Berkebaya Jogja, Bogor, Banten, Bali, Bandung, dan Tangerang.

“Lewat komunitas ini, kami saling belajar tentang sejarah, budaya, dan pemberdayaan wanita,” papar Lia yang mengatakan bahwa berbagai acara digelar dalam komunitas ini misalnya workshop membatik, diskusi tentang batik dan kain-kain Indonesia, dan lain sebagainya.





(TIN)