11 Penyebab Pernikahan Harmonis juga Bisa Berakhir dengan Perceraian

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 09 Jan 2018 12:29 WIB
perceraian
11 Penyebab Pernikahan Harmonis juga Bisa Berakhir dengan Perceraian
(Foto: Shutterstock)

Jakarta: Keputusan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menggugat cerai istrinya, Veroica Tan menjadi salah satu topik yang paling banyak dibicarakan. Banyak yang menyayangkan mengingat keduanya kerap tampil kompak dan harmonis.

Pernikahan yang terlihat adem ayem memang bukan jaminan akan awet selamanya.

"Pasangan yang tampaknya bahagia sering bercerai karena mereka menghindari masalah dalam hubungan. Mereka berpura-pura bahwa semua baik-baik saja, tetapi tak menyelesaikan masalah yang dialami," ujar konselor Margaret Bell seperti dilansir dari Bustle.

Lebih dalam, beberapa hal ternyata bisa memicu perceraian pada pasangan harmonis.

1. Tak membicarakan masa depan

Pasangan yang senang menghabiskan waktu bersama memang bahagia, tetapi jika tak membicarakan visi dan rencana jangka panjang, maka keluarga yang telah dibangun akan mudah berantakan.

Psikoterapis Lindsey Hutter menjelaskan, ada beberapa topik yang direncanakan dan dikomunikasikan terlebih dahulu seperti di mana akan membeli rumah, apakah akan memiliki anak, di mana Anda akan merayakan hari libur.

2. Tak bisa mengatasi stres dengan baik

Tak segera menyelesaikan masalah bisa membuatnya menjadi berlarut-larut dan menjadi bom waktu di kemudian hari. Jadi, mengalihkan stres bukanlah pilihan yang baik.

3. Hubungan jarak jauh

Jarak bisa menjadi faktor utama pemicu rumah tangga berantakan. Hal tersebut dapat menyebabkan pasangan merasa tak terkoneksi atau membuat mereka merindukan koneksi dari orang lain di luar pernikahan.

4. Tak romantis

Beberapa pasangan terlihat seperti berteman, selalu bersama namun tak intim secara romansa atau seksual. "Fungsi dan hubungan mereka seperti  mesin tua yang rutin bersama. Hal ini lebih sering terjadi daripada yang disadari orang dan bisa mengarah pada keinginan untuk memiliki hubungan seksual romantis dengan orang lain," urai Huttner.

5. Menghindari pertengkaran

Selalu bertengkar memang tak baik dalam sebuah hubungan, tetapi demikian juga dengan menghindari pertengkaran.

"Itu memang membuat Anda aman, namun tak membantu hubungan menjadi berkembang. Untuk hubungan yang tetap bisa kuat, pasangan harus mencari cara agar bisa terus seperti itu, seperti membicarakan masalah yang muncul, bahkan sesederhana ketika pasangan malas mencuci piring," papar Bell.

6. Memiliki nilai keluarga yang berbeda

Beberapa pasangan memiliki nilai sosial yang berbeda dalam keluarga. Misalnya, anak tunggal yang menikah dengan orang yang memiliki banyak saudara. Satu pihak lebih senang sendiri, sementara satu lagi senang berbagi dengan orang banyak.

"Mereka akan tak setuju dengan pembatasan atau kunjungan keluarga, kecuali mereka mendiskusikannya untuk menghargai perasaan satu sama lain," ujar konselor hubungan Kac Young.

7. Ada masalah finansial

"Masalah uang adalah penyebab utama perceraian. Jika salah satu merasa 'berhak' atas gaji pasangannya, maka akan ada percekcokan. Pengeluaran berlebih, judi, dan hutang kartu kredit masuk dalam kategori ini. Kedua pihak harus berada dalam pandangan yang sama dalam hal anggaran, pengeluaran, penghematan, dan pengeluaran sumber daya." kata Young.

8. Tidak mengapresiasi satu sama lain

Sebuah pasangan bisa bahagia, namun tidak mengapresiasi satu sama lain bisa menimbulkan pertengkaran. Misal, suami menganggap memasak memang kewajiban istri, jadi tak perlu memberi apresiasi atau pujian. Begitu juga istri yang tak mengapresiasi ketika sang suami membelikan baju untuknya, menganggap itu adalah hal yang lumrah.

"Jika satu pihak menganggap demikian, baik secara finansial atau emosional, maka akan ada perasaan terluka atau kebencian," papar Young.

9. Punya pandangan politik atau keyakinan yang  berbeda

Politik dan agama bisa juga menjadi pemicu perceraian. "Kecuali ada rasa menghargai pada pandangan dan keyakinan yang sehat, pasangan bisa saja bercerai setelah masa pemilu atau liburan keagamaan jika merasa tak dihargai," ujar Young.

10. Tak memiliki diskusi bermakna

Meskipun bisa berbahagian, namun pembicaraan yang biasa seperti kondisi cuaca olahraga atau gosip tak dapat melanggengkan hubungan. "Hal ini karena pembicaraan tersebut tidak menghubungkan dan menginvestasikan Anda di pasangan Anda," ujar Bell.

Topik yang mendalam adalah hal penting dalam melanggengkan hubungan.

11. Berpura-pura

Beberapa pasangan terlihat bahagia, tetapi bisa saja itu hanya pura-pura. "Kemungkinan mereka terlihat bahagia sehinggap orang lain tak tahu bahwa hubungan mereka bermasalah. Mungkin mereka hanya berpura-pura. Kita sering berpura-pura bahagia untuk membodohi diri sendiri," pungkas Bell.



 


(DEV)