Ramuan Cinta Akan Benar-benar Ada?

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 18 Apr 2017 12:32 WIB
romansa
Ramuan Cinta Akan Benar-benar Ada?
Seorang peneliti senior dan ahli saraf komputasi yang terlatih dari University of Oxford bernama Dr. Sanders Sanberg mengungkapkan bahwa ramuan cinta akan segera menjadi kenyataan. (Foto: Cupid's Pulse)

Metrotvnews.com, Jakarta: Dalam dongeng, tak jarang kita mendengar ramuan cinta yang merupakan cairan yang bisa membuat kita jatuh cinta pada seseorang. Kini, menurut sebuah penelitian, ramuan tersebut akan ada di dunia nyata. 

Seorang peneliti senior dan ahli saraf komputasi yang terlatih dari University of Oxford bernama Dr. Sanders Sanberg mengungkapkan bahwa ramuan cinta akan segera menjadi kenyataan. 

Menurutnya, alasan utama mengapa seseorang jatuh cinta adalah karena seseorang tak bisa mengurus diri mereka sendiri, berbeda dengan beberapa jenis binatang yang sudah bisa mencari makanan sendiri dan mandiri pada usia muda. 



"Kita manusia adalah bayi yang tak bisa apa-apa, tak seperti bayi kuda yang bisa berjalan beberapa jam setelah dilahirkan," ujarnya pada Broadly.

Melalui pemikiran tersebut, menurutnya, orang-orang perlu memastikan bahwa orangtua tetap bersama untuk memberikan pertahanan terbaik pada keturunannya. Di situlah, sistem keterikatan pasangan bermain. 

Sementara, saat jatuh cinta dengan seseorang, otak akan memiliki efek yang unik, yaitu oksitosin dan vasopressin yang keluar karena sistem dopamin otak menjadi aktif. 

"Sistem dopamin menciptakan keterikatan dimana kebanyakan gejala yang ditimbulkan memberikan efek stimulan. Jika dopamin dikeluarkan dalam lobus frontal, maka hal tersebut akan menyebabkan Anda menyadari bahwa orang tersebut seharusnya berada di sekitar Anda, dekat dengan Anda," paparnya. 

Hal tersebutlah penyebab Anda merindukan pasangan, terutama aroma mereka, saat berpisah karena tubuh melepaskan hormon pelepas kortikotropin (CPH) saat mereka pergi. 

Sanberg percaya bahwa ramua cinta dapat diciptakan dengan pencampuran dari oksitosin, vasopressin dan CPH. Namun, para ilmuwan belum tahu bagaimana cara melakukannya. 

(Baca juga: Cinta yang Berlebihan Bisa Memicu Perpisahan)



"Sebuah obat cinta perlu mempengaruhi bagian otak yang tepat dengan cara menstimulasi sistem tersebut. Kita belum memiliki obat cinta yang tepat," tukasnya. 

Namun, para ilmuwan kini makin dekat dengan inovasi tersebut karena mulai mengetahui cara kerja otak.

"Kita sudah mulai mengerti bagaimana siklus kerja otak dan dalam kurun 10 tahun akan sangat mengejutkan bila kita masih belum tahu bagaimana cara memodulasi otak," katanya. 

Di satu sisi, ramuan ini sendiri menjadi problematika bagi beberapa jenis orang. 

"Ramuan cinta klasik, membuat orang jatuh cinta hanya dengan meminumnya, adalah masalah tersendiri. Dari sudut pandang etika, jika ramuan ini ada, bisa dijadikan sebagai salah satu cara untuk memperkosa," demikian menurut Sanberg.

Meski demikian, ia percaya kelak penggunaan obat ini adalah untuk mempertahankan hubungan. 

"Ketika Anda sudah jatuh cinta dengan seseorang, perasaan dasar berubah seiring berjalannya waktu. Bagaimana jika ada cara untuk meningkatkan rasa cinta yang memudar?" pungkasnya. 








(TIN)