Budaya Kolektif Bikin Orang Indonesia Suka Melakukan Berbagai Challenge

Yatin Suleha    •    Selasa, 28 Nov 2017 15:07 WIB
Budaya Kolektif Bikin Orang Indonesia Suka Melakukan Berbagai Challenge
Budaya masyarakat indonesia bersifat kolektivistik. Ciri khas dari budaya ini adalah konformitas. Dengan demikian maka orang-orang mudah mengikuti kegiatan, aktivitas, ataupun tren. (Foto: Bin Thi?u/Unsplash.com)

Jakarta: Anda pasti sudah mengetahui demam "Marsha Bengek Challenge" yang sekarang ini sedang tren di dunia media sosial. Dari mulai anak kecil, orang dewasa, para ibu dan bapak, hingga deretan artis juga tak luput terkena demam yang sama.

Walau mungkin sebagian besar tidak mengetahui artinya, namun ada kata bijak dalam dunia budaya yaitu seni dan budaya tak mengenal perbedaan bahasa. Lagu salah satunya. Banyak orang bisa larut dalam menikmatinya.

Ini juga yang dilakukan oleh Indah Ekanisa, salah satu dari pulahan yang mengikuti "Marsha Bengek Challenge" ini. Alasannya mengikuti challenge ini diakuinya karena sosok Lexa tersebut mampu menghiburnya.

"Soalnya lagunya lucu, terus gerakannya tidak sulit untuk diikuti, dan juga yang enggak tahan mimik mukanya Lexa itu lucu banget. Jadi, kita merasa terhibur kalau lihat video ini. Dan ikut-ikutan juga membuat video ini iseng sekaligus buat hiburan kita. Kalau lihat-lihat lagi, suka ketawa...," ucap wanita cantik ini.

Sebut saja sejak tahun lalu berbagai challenge mewarnai jagat media sosial kita seperti, Samyang Challenge, Manequin Challenge, No Mirror Make Up Challenge, 30 Days Challenge, Ice Bucket Challenge, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Jika ditilik lagi, mengapa orang Indonesia menyukai challenge serta mau mengikutinya? Psikolog anak, remaja, serta keluarga, Efnie Indrianie, M.Psi punya jawabannya.


(Salah satu aksi Marsha Bengek Challenge. Foto: YouTube: Karim Benzs)

(Baca juga: Orang Rusia Senang Marsha Bengek Challenge Viral)

Peran Budaya Kolektif dan Ajang Aktualisasi Diri

Ada beberapa faktor pemicu dilakukannya challenge, salah satunya karena budaya kolektif (kebersamaan).

"Budaya masyarakat indonesia bersifat kolektivistik. Ciri khas dari budaya ini adalah konformitas. Dengan demikian maka orang-orang mudah mengikuti kegiatan, aktivitas, ataupun tren. Demam challenge di dunia sosial merupakan salah satu bentuk konformitas," jelas wanita yang juga masih aktif mengajar di Universitas Maranatha, Bandung ini.

Alasan lainnya menurut Efnie adalah karena pada dasarnya setiap individu memiliki kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. "Oleh karena itu, ketika ada hal yang bisa memfasilitasi itu dalam kemasan aktivitas "challenge" tadi, maka individu tersebut akan tertantang untuk melakukannya," ucap ibu satu anak ini.

"Kegiatannya akan dilihat oleh banyak orang dan bahkan tidak jarang mengundang komentar. Maka perhatian yang diperoleh dari orang-orang tadi dipersepsi oleh individu tersebut bahwa ia sudah aktualisasi diri," jelas Efnie.








(TIN)