Benarkah Uang Tak Bisa Membeli Kebahagiaan?

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 03 Aug 2017 15:27 WIB
psikologi
Benarkah Uang Tak Bisa Membeli Kebahagiaan?
(Foto: Wealthy Way)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pernahkah Anda mendengar ungkapan "uang tak dapat membeli kebahagiaan?" Menurut sebuah studi, ungkapan tersebut sudah tak relevan.

Faktanya, menghabiskan uang dapat meningkatkan kepuasa hidup, asalkan digunakan pada hal-hal yang tepat.

Sebuah penelitian dari University of British Columbia menemukan bahwa menghabiskan uang untuk mendapatkan waktu istirahat, seperti membayar seseorang untuk memasak atau bersih-bersih dapat meningkatkan kebahagiaan, menurunkan rasa stres, dan memuaskan hidup secara umum.

"Di seluruh dunia, peningkatan kekayaan telah menciptakan konsekuensi tanpa disengaja, dan waktu yang berkurang," demikian menurut para penulis buku Buying Time Promotes Happiness.

"Kami memiliki bukti yang menunjukkan bahwa uang dapat membeli waktu, memberikan penyangga terhadap kelaparan, sehingga meningkatkan kebahagiaan,"

Untuk mencapai kesimpulan tersebut, para peneliti bertanya kepada sekitar 4.500 orang di Amerika Serikat, Belanda, Denmark, dan Kanada tentang tingkat stres terkait waktu, kepuasan hidup, dan bagaimana mereka menghabiskan uang pada barang-barang di saat harus menabung.

Hasilnya, 28 persen dari mereka yang menghabiskan uang pada saat harus menabung ternyata lebih puas dengan hidup mereka dibandingkan orang lain.

Selanjutnya, para peneliti menanyakan bahwa 1.800 orang Amerika pertanyaan yang sama dan menemukan bahwa 50 persen responden yang melakukan pembelian juga lebuh bahagia.

Akhirnya, sebuah penelitian yang memberikan 60 orang Kanada sebanyak USD 40 di akhir pekan menemukan bahwa pembeli yang menghabiskan uang untuk menghemat waktu merasa lebih positif di akhir hari dibandingkan mereka yang menghabiskan uanh pada barang.

"Jika ada pekerjaan yang membuat Anda memikirkannya saja sudah membuat Anda takut, maka Anda akan mempertimbangkannya untuk membeli sesuatu yang bisa membuat anda lepas dari rasa itu," ujar salah satu peneliti Elizabeth Dunn.

Namun, terlepas dari manfaat membeli waktu, penelitian tersebut menemukan bahwa banyak dari kita memilih untuk tidak mengalokasikan pendapatan dengan cara tersebut, bahkan ketika kita mampu membelinya.

"Meskipun ada potensi manfaat dari waktu membeli, banyak responden tidak mengalokasikan pendapatan untuk membeli waktu, bahkan ketika mereka mampu membelinya: hanya di bawah setengah dari 818 jutawan yang kami survei tidak menghabiskan banyak uang untuk meminta orang lain untuk melakukan tugas yang tak mereka sukai," catat para penulis.

Mereka percaya, hal ini disebabkan oleh adanya 'kultus kesibukan', sebuah ideal yang melihat orang menyukai etos kerja yang rajin dibandingkan membayar seseorang untuk melakukan tugas karena takut terlihat malas.




(DEV)