Ini Alasan Kaum Milenial Enggan Setia pada Perusahaan

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 22 May 2018 10:58 WIB
generasi milenial
Ini Alasan Kaum Milenial Enggan Setia pada Perusahaan
(Foto: Shutterstock)

Jakarta: Sebuah survei membuktikan bahwa kaum milenial tak dapat bertahan lama dalam sebuah perusahaan. Menurut survei, dua tahun adalah waktu bagi pekerja milenial sanggup bertahan, kemudian berpindah untuk mencari tempat kerja yang lebih inklusif dan berbeda. 

Perusahaan jasa profesional Deloitte menyurvei 10.455 kaum milenial yang lahir 1983 hingga Desember 1994 dan mencari tahu jenis perusahaan apa yang membuat generasi tersebut tetap setia. 

Hasilnya, 43 persen kaum milenial berencara meninggalkan pekerjaan saat ini dalam kurun dua tahun dan hanya 28 persen yang berniat bertahan lebih dari lima tahun. 

Selain faktor pendapatan, ada beberapa faktor penting lain yang memengaruhi keputusan tersebut. 

Survei tersebut menemukan bahwaa generasi milenium yang bekerja di organisasi sektor swasta besar telah kehilangan kepercayaan terhadap etika perusahaan tersebut selama setahun terakhir.

Terjadi 17 persen penurunan kepercayaan responden dalam hal perilaku bisnis secara etis dan 16 persen responden merasa perusahaan lebih fokus pada agenda pribadi dibandingkan kepentingan masyarakat. 

Kaum milenial cenderung ingin bekerja untuk kepentingan masyarakat sementara 51 persen merasa prioritas perusahaan tempat mereka bekerja adalah menghasilkan laba. 

Artinya, gagasan bahwa uang membeli komitmen tidak berlaku bagi generasi milenial. 

"Hasil survei tahun ini menunjukkan bahwa perubahan sosial, teknologi dan geopolitik yang cepat pada tahun lalu telah berdampak pada pandangan bisnis kaum milenial dan generasi Z, dan seharusnya ini menjadi panggilan untuk membangunkan para pemimpin di mana-mana," terang Punit Renjen, CEO Deloitte Global.

Menurutnya, kaum milenial merasa para pemimpin bisnis telah menempatkan terlalu tinggi pada agenda perusahaan mereka tanpa mempertimbangkan kontribusi mereka kepada masyarakat luas. 

Padahal, bisnis perlu mengidentifikasi cara-cara dimana mereka dapat secara positif memengaruhi komunitas tempat mereka bekerja dan fokus pada isu-isu seperti keragaman, inklusi dan fleksibilitas jika mereka ingin mendapatkan kepercayaan dan kesetiaan para pekerja milenial dan generasi Z.

Pada dasarnya, jika sebuah bisnis ingin mempertahankan karyawan milenial dan Gen Z, dedikasi terhadap toleransi dan inklusivitas di tempat kerja, serta fokus pada upah dan budaya kerja adalah hal yang penting untuk dipertimbangkan.

Namun, 44 persen dari generasi milenium masih memiliki keyakinan dalam kemampuan bisnis mereka untuk melakukan perubahan yang berarti dalam masyarakat atau percaya para pemimpin bisnis bisa memberikan dampak positif.



(DEV)