Tips Menata Media Sosial untuk Pencari Kerja

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 03 May 2018 06:15 WIB
tips karier
Tips Menata Media Sosial untuk Pencari Kerja
Beberapa manajer perekrutan membeberkan beberapa contoh gaya bermedia sosial yang sebaiknya dihindari karena dapat menurunkan kualitas mereka di mata perusahaan. (Foto: Freestock.org/Unsplash.com)

Jakarta: Media sosial tak hanya sebagai ajang komunikasi sosial saja, tetapi juga bisa berpengaruh pada peniliaian saat mencari kerja. Tak jarang, perusahaan mencari tahu karakter calon pegawai melalui kebiasaan di dunia maya. 

Beberapa manajer perekrutan membeberkan beberapa contoh gaya bermedia sosial yang sebaiknya dihindari karena dapat menurunkan kualitas mereka di mata perusahaan. 

Natasha Taylor, manajer rekrutmen dari Rhino Staging mengaku tak senang dengan orang yang tak menggunakan nama asli dan/atau menggunakan foto-foto tak sopan. 

Sementara, Erica Holloway selaku manajer rekrutmen untuk Digital Media Academy tidak akan mempekerjakan orang yang mengeluarkan opini yang buruk di media sosial. 

"Ada seseorang yang melamar menjadi direktur regional dan sepertinya cocok. Ternyata, di media sosial, ia mengunggah kata-kata kasar tentang orang yang menonton pertandingan sepak bola dengan mengatakan olahraga tersebut menyebabkan kerusakan otak, dan mereka yang melihatnya juga demikian. Pendapat sosialnya mewarnai keefektifannya sebagai direktur regional dan dapat membuat orang merasa tidak nyaman," paparnya. 


(Media sosial tak hanya sebagai ajang komunikasi sosial saja, tetapi juga bisa berpengaruh pada peniliaian saat mencari kerja. Foto: Maliha Mannan/Unsplash.com)

(Baca juga: Kecanduan Media Sosial, Bukti Keinginan Interaksi Sosial yang Tinggi)

Tak semua perekrut akan melihat media sosial kandidat pekerja. Beberap diantaranya hanya memastikan apakah komunikasi atau kemampuan yang ditulis dalam media sosial kandidat sesuai dengan lingkungan perusahaan kelak. 

"Jika saya melihat laman Facebook si kandidat yang berisikan gambar-gambar yang menghina wanita atau gambar tak pantas, saya tak yakin ia tak cocok dengan perusahaan ini," ujar manajer rekrutmen dari BrandRep. 

Penggunaan bahasa dan bagaimana cara merepresentasikan diri di media sosial adalah salah satu hal penting dalam menilai kandidat, demikian menurut Sarah Schroeder, manajer rekrutmen American Marketing & Publishing LLC. 

Terakhir, Melissa Richardson dari Deacom Inc. mengaku tak bisa menentukan pantas tidaknya seseorang untuk bekerja di perusahaan tersebut berdasarkan isi media sosial karena hal itu termasuk diskriminasi. 

Namun, ia dengan tegas akan menolak kandidat yang memamerkan kebiasaan minum alkohol berlebih, berlaku tak sopan, atau mengeluarkan pandangan politik dan agama secara agresif. "Hal tersebut menunjukkan adanya masalah budaya dan kandidat tersebut kemungkinan tak bisa bekerja dengan orang lain."





(TIN)