Bagaimana Cara Menstimulasi Keterampilan Sosial Anak?

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 27 Sep 2016 19:14 WIB
keluarga
Bagaimana Cara Menstimulasi Keterampilan Sosial Anak?
(Foto: akfconnectingdots)

Metrotvnews.com, Jakarta: Keterampilan sosial menjadi salah satu aspek yang harus diajarkan kepada anak. Selain aspek fisik, tak kalah penting untuk merangsang kemampuan kognitif, bahasa, dan emosi.

Dengan demikian, anak diharapkan dapat meregulasi emosinya, mengeksplorasi lingkungan sekitarnya, dan supel dalam pergaulan.

"Beberapa ciri anak yang memiliki ketrampilan sosial yakni mudah berteman dan bekerja dengan siapa saja, bisa menyelesaikan pertengkaran, memiliki rasa empati, seperti peduli pada mereka yang kekurangan/sakit, dan saat marah tidak mengganggu orang lain," jelas psikolog Anna Surti Ariani saat ditemui di Jakarta, Selasa (27/9/2016).

Perempuan yang akrab disapa Nina itu mengatakan bahwa dalam setiap tahapan perkembangan, anak memiliki ketrampilan sosial yang berbeda.

Untuk anak berusia 1-3 tahun, ada beberapa ketrampilan sosial yang seharusnya sudah bisa dilakukan.

"Pertama, anak sudah mengetahui jenis kelaminnya sendiri, apakah dia laki-laki atau perempuan. Biasanya saat berumur 1,5 hingga dua tahun sudah tahu," terangnya.

Pada usia ini, dalam hal pergaulan, anak sudah bisa mengenali siapa yang berada di sampingnya, walaupun tidak melakukan komunikasi seperti percakapan biasa. Anak juga biasanya akan meniru apa yang teman sebayanya lakukan saat berdekatan.

"Saat di taman bemain misalnya, ketika anak melihat temannya mengambil bola, ia juga akan meniru dengan ikut mengambil bola," ujarnya, memberi contoh.


Pada tahap ini, anak masih enggan berbagi karena pemahaman soal kepemilikan barang masih kurang.

Dalam berperilaku pun anak masih sulit mengendalikan diri dan mudah memukul karena mereka belum mengetahui dampak dari tindakan yang dilakukan, yaitu dapat menyakiti orang lain.

Agar ketrampilan anak tidak terhambat, orang tua perlu melakukan beberapa stimulasi yang mampu merangsang kemampuan sosial anak, yaitu dengan cara memperluas jaringan pertemanan anak dengan teman sebaya. Namun ingat, jangan memaksa anak.

"Tak perlu dipaksa karena mereka memang belum ada interaksi juga kan. Ajak saja mereka mengamati orang, dan bujuk untuk melakukan hal yang sama sehingga orang tua juga bisa sekalian mengajak anak ngobrol," sarannya.

Salah satu hal yang juga tak boleh dilakukan adalah memarahi anak ketika mereka ringan tangan. Memarahi ketika mereka belum sepenuhnya paham, hanya akan memberi pengaruh buruk pada pergaulannya kelak.

Setelah melalui masa batita, anak memasuki fase kedua dalam mengasah keterampilan. Hal ini terjadi pada usia 4-6 tahun.

"Salah satu ketrampilan sosial anak pada usia tersebut adalah sudah mampu berbohong. Ini perlu dilihat dari sisi positif dimana kemampuan kognitif dan emosi anak sudah berkembang," urai Nina.

Anak juga akan berperilaku baik dalam tahap ini, tetapi bukan karena merasa itu sebagai kewajiban, melainkan karena takut pada hukuman.

Selain itu, anak berusia 4-6 tahun juga sudah mulai bisa mengontrol emosi, tidak lagi mengalami tantrum atau marah yang meledak-ledak.

"Tantrum normalnya berhenti di awal usia 4 tahun. Bila masih (tantrum), kemungkinan ada perkembangan yang tertunda, atau pola pengasuhan yang salah. Biasanya karena segala keinginannya selalu dipenuhi saat ia menangis," terangnya.

Salah satu ketrampilan yang juga terlihat adalah senangnya anak dalam berimajinasi dan mendengarkan humor.

"Hal tersebut bisa Anda manfaatkan untuk menambah kosa kata anak melalui cerita-cerita lucu," sarannya.

Pada tahap ini, anak juga akan lebih sanang bermain dengan teman, karena baru menemukan hal-hal baru yang menyenangkan.

Sebagai orang tua, salah satu stimulasi yang bisa dilakukan untuk mendukung perkembangan keterampilan sosial anak adalah dengan membiarkannya bermain dengan teman sebaya.

Orang tua juga bisa menstimulasi dengan mencontohkan beberapa cara menyelesaikan masalah, namun tetap membiarkan anak memecahkan masalahnya sendiri.

"Kalau waktu kecil, coba ajarkan pada anak cara minta maaf yang sesuai dengan usianya. Misalnya dengan menggunakan jari kelingking, biasanya kan anak kecil begitu ya," tukasnya memberi contoh.

Orang tua juga bisa mengajarkan etika dan cara begaul dengan benar dengan menggunakan perumpamaan sambil bermain dengan anak, misalnya dengan bermain drama.

Anak diajak untuk memerankan tokoh lain agar bisa merasakan posisi yang berbeda dengan dirinya. Dengan demikian, ia akan mulai mengerti bagaimana sebaiknya bersikap dalam keseharian, misalnya seperti mengantri, berbagi, atau bertukar.

"Sisipkan pujian pada anak bila anak sudah bisa menunjukkan keterampilan sosial yang baik agar anak semakin termotivasi," tutupnya.

 


(DEV)