Perawatan Bayi Tabung di Indonesia Tak Kalah dengan Luar Negeri

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 06 Sep 2018 16:14 WIB
bayi tabung
Perawatan Bayi Tabung di Indonesia Tak Kalah dengan Luar Negeri
In Vitro Fertilization (IVF) atau lebih dikenal dengan bayi tabung merupakan salah satu solusi bagi pasangan yang kesulitan memiliki momongan, termasuk di Indonesia. (Foto: Kelly Sikkema/Unsplash.com)

Jakarta: In Vitro Fertilization (IVF) atau lebih dikenal dengan bayi tabung merupakan salah satu solusi bagi pasangan yang kesulitan memiliki momongan, termasuk di Indonesia.

"1 dari 10 pasangan memiliki masalah kesuburan, artinya 4 juta dari 40 juta pasangan di Indonesia," ujar dr. Ivan Riza Sini, SpOG dalam konferensi pers acara Morula: Fertility Science Week di Mal Central Park Jakarta, Kamis 6 September 2018. 

Hal tersebut menjadi masalah sosial di mana turut berpengaruh pada orang sekitar pasangan yang tak jarang memberikan saran untuk mulai melakukan pengobatan. 

(Baca juga: Ini Alasan Mengapa Makin Banyak Pasangan Muda Melakukan Program Bayi Tabung)


(In Vitro Fertilization (IVF) atau lebih dikenal dengan bayi tabung merupakan salah satu solusi bagi pasangan yang kesulitan memiliki momongan, termasuk di Indonesia. Foto:  John Looy/Unsplash.com)

Pilihan bayi tabung memang sudah tak asing lagi. Sayangnya, tak sedikit masyarakat Indonesia yang masih mempercayakan perawatan tersebut di luar negeri. 

Bahkan, lanjutnya, setiap tahun terdapat 750 ribu orang Indonesia yang mencoba bayi tabung ke luar negeri seperti Singapura, Malaysia, hingga Australia. 

"Padahal, orang datang dari luar negeri ke Indonesia karena pelayanan kita sudah sama dengan luar negeri. Tetapi mengapa justru pasien Indonesia ke luar negeri?" ia bertanya. 

CEO dari Morula IVF Indonesia tersebut bahkan mengungkapkan bahwa klinik yang dipimpinnya sudah masuk dalam salah satu klinik tersibuk di Asia Tenggara, yang berarti banyak pasangan mempercayakan pengobatan bayi tabung di sana. 

Hingga saat ini, terdapat sekitar 8 juta anak hasil bayi tabung di seluruh dunia. Program tersebut dikembangkan pada tahun 1978 di luar negeri dan masuk ke Indonesia pada tahun 1988.



(TIN)