Kebiasaan Memberi Julukan pada Anak Dapat Berdampak Tak Baik

Sri Yanti Nainggolan    •    Senin, 24 Sep 2018 14:44 WIB
perkembangan anak
Kebiasaan Memberi Julukan pada Anak Dapat Berdampak Tak Baik
"Penelitian menunjukkan bagaimana fitur bahasa yang halus dapat membentuk perilaku anak dengan cara yang sebelumnya tidak dipahami," ujar penulis senior Profesor Marjorie Rhodes, dari New York University. (Foto: Johannes Waibel/Unsplash.com)

Jakarta: Ada berbagai cara untuk mendidik anak lebih mandiri. Salah satunya adalah menyematkan julukan pembantu cilik.

Meskipun terdengar positif, ternyata beberapa psikologis berpendapat kebiasaan tersebut dapat membuat anak enggan melakukan tugas yang mereka anggap sulit. 

Sebuah studi yang dipublikasi dalam jurnal Child Development menemukan bahwa meminta anak untuk membantu lebih efektif karena meyakinkan mereka untuk terus bekerja meskipun sempat mengalami kendala.

Menurut para peneliti, perbedaan terletak pada hubungannya dengan jenis kata. Penggunaan kata kerja cenderung mengarah ke ketahanan yang lebih besar, sedangkan kata benda seperti penolong tidak memiliki efek serupa.

"Penelitian ini menunjukkan bagaimana fitur bahasa yang halus dapat membentuk perilaku anak dengan cara yang sebelumnya tidak dipahami," ujar penulis senior Profesor Marjorie Rhodes, dari New York University.

"Secara khusus, menggunakan kata kerja untuk berbicara dengan anak-anak tentang perilaku, seperti 'Anda dapat membantu', dapat menyebabkan lebih banyak tekad setelah semangatnya menurun, daripada menggunakan kata benda untuk berbicara tentang identitas, misalnya, 'Anda bisa menjadi pembantu'."

(Baca juga: Jangan Paksa Anak untuk Aktif, Ini Alasannya)


("Penelitian menunjukkan bagaimana fitur bahasa yang halus dapat membentuk perilaku anak dengan cara yang sebelumnya tidak dipahami," ujar penulis senior Profesor Marjorie Rhodes, dari New York University. Foto: Alexandr Podvalny/Unsplash.com)

Penemuan tersebut menemukan bahwa membiasakan memanggil anak dengan sebutan pembantu menjadi bumerang setelah ada yang salah dengan tugas yang diberikan kepada mereka.

Untuk memelajari perbedaan yang pilihan bahasa pada ketekunan anak-anak, para peneliti merancang eksperimen di mana peserta yang berusia empat hingga lima tahun diminta untuk menjadi pembantu atau untuk membantu.

Dalam setiap situasi, anak-anak mengalami masalah seperti kotak jatuh dan menumpahkan isinya di lantai setelah mereka membersihkannya. Itu adalah tipikal situasi kehidupan nyata yang mungkin mereka alami, tambah Profesor Rhodes.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang diminta untuk membantu jauh lebih tangguh setelah semangatnya menurun dibandingkan dengan anak yang dipanggil pembantu.

Setelah mengalami kemunduran, anak-anak yang diminta untuk membantu sama-sama membantu dalam situasi yang menantang, baik menguntungkan bagi diri sendiri atau tidak.

Sebagai perbandingan, anak-anak yang dianggap sebagai penolong jarang membantu dalam situasi yang menantang setelah mengalami kemunduran dan hanya melakukannya ketika itu mudah dan menguntungkan diri mereka sendiri.

"Penelitian ini menunjukkan bagaimana berbicara dengan anak-anak tentang tindakan yang dapat mereka lakukan dapat mendorong lebih banyak kegigihan setelah kemunduran daripada berbicara kepada anak-anak tentang identitas yang bisa mereka ambil," simpul pemimpin penelitian Emily Foster-Hanson.





(TIN)