Bagaimana Buku Mempengaruhi Kecerdasan Seorang Anak?

Gervin Nathaniel Purba    •    Rabu, 26 Jul 2017 09:04 WIB
bukuuntukindonesia
Bagaimana Buku Mempengaruhi Kecerdasan Seorang Anak?
Kebiasaan membaca buku sejak dini membantu perkembangan kognitif anak (Foto:Shutterstock)

Metrotvnews.com, Jakarta: Buku adalah jendela dunia yang memiliki kekuatan untuk memicu keingintahuan, mengenalkan inovasi, dan membuka kesempatan. Banyak membaca buku membuat seseorang kaya wawasan dan kosakata dalam setiap tutur berbicaranya.

Sayangnya tidak semua anak memiliki kesempatan untuk memperoleh buku bacaan yang bagus karena masih banyak masyarakat berpenghasilan rendah. Mengutip dari Huffington Post, sebanyak 60 persen rumah tangga berpendapatan rendah tidak memiliki satu buku pun untuk dibaca dengan anak-anak mereka. Sekolah dan perpustakaan umum di masyarakat berpenghasilan rendah juga kekurangan sumber daya dengan 80 persen program pendidikan tidak memiliki buku sama sekali untuk anak-anak yang mereka layani.

Pada lingkungan itu, hanya ada sedikit buku yang sesuai untuk setiap 300 anak-anak. Dengan tidak adanya buku yang menarik dan informatif, pembacaan yang konsisten terhadap dan oleh anak-anak terus memudar dan berakibat mempengaruhi perkembangan kognitif mereka sejak usia dini.

Hal ini tentunya membawa dampak buruk bagi anak-anak saat masuk sekolah lantaran mereka tidak memiliki dasar yang tepat untuk berkembang. Pada usia empat tahun, anak-anak dari masyarakat berpenghasilan rendah telah mendengar 30 juta kata yang lebih sedikit daripada teman-teman sebayanya dari keluarga kelas menengah atas. Kesenjangan kata ini berdampak pada pencapaian masa depan mereka terutama menjadi kritis di awal tahun ketika sekolah.

Pada kelas empat, lebih dari 80 persen anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah gagal mencetak "seseorang yang ahli" dalam membaca ujian nasional. Selain itu pada saat ini siswa minoritas yang tidak pandai membaca dua kali lebih mungkin tidak dapat menyelesaikan sekolahnya.

Siswa minoritas tersebut juga enggan untuk tampil unjuk gigi di depan kelas disebabkan mereka terlalu takut atau malu untuk risiko membaca keras-keras di depan teman sebayanya. Tahun demi tahun mereka semakin jauh tertinggal sampai akhirnya menjadi lebih mudah untuk drop out daripada mengejar ketertinggalan.

Peristiwa demikian sebenarnya juga kerap ditemukan di beberapa wilayah Indonesia, khususnya di daerah pelosok. Minimnya akses terhadap buku menyebabkan anak-anak menjadi kurang percaya diri dan kemampuan wawasannya terbatas. Harga buku di daerah relatif mahal akibat tingginya ongkos kirim. Hal ini juga yang menyebabkan penyebaran buku belum merata hampir di seluruh wilayah Indonesia. Kesenjangan kosakata antara anak-anak perkotaan dan anak-anak di desa terlihat jelas.

Kondisi tersebut jangan kita biarkan begitu saja. Sebab, generasi muda menjadi penentu arah masa depan bangsa ini. Kita harus melakukan sesuatu untuk mempermudah akses anak-anak di daerah mendapatkan buku bacaan. Beruntung, kini ada gerakan #BukuUntukIndonesia yang memfasilitasi donasi dari masyarakat  untuk dikonversi menjadi buku dan disalurkan kepada anak-anak di pelosok daerah.

Anda bisa mengunjungi tautan www.BukuUntukIndonesia.com. Klik tombol "berbagi" di website Buku Untuk Indonesia. Kemudian, Anda akan diarahkan ke laman Blibli.com untuk memilih paket berbagi yang diinginkan. Dengan berbagi minimal Rp100 ribu Anda sudah berpartisipasi untuk mewujudkan generasi penerus bangsa yang lebih baik.


(ROS)