Potret Pilu Pendidikan di Sumba

Nia Deviyana    •    Senin, 11 Sep 2017 13:24 WIB
pendidikan
Potret Pilu Pendidikan di Sumba
(Foto: Metrotvnews/Nia)

Metrotvnews.com, Sumba Barat: Cita-cita masih menjadi hal yang tak begitu dipikirkan siswa SD Negeri Mata Wee Tame di Desa Lolowano, Kecamatan Tana Righu, Sumba Barat. Jangankan memikirkan mau jadi apa, kelak, sekolah mereka masih jauh dari kata layak.

"Cita-citamu apa, nak?" tanya Evelyn, salah satu relawan pengajar yang bergabung dalam program 1000 Guru, kepada salah satu murid kelas V.

"Jadi ibu."

"Bagus. Tetapi ibu juga harus sekolah ya," ujar Evelyn, berpesan.



SDN Mata Wee Tame yang menampung sekitar 130 anak merupakan sekolah paralel dari sekolah induk yang letaknya 3 kilometer dari Desa Lolowano. Sekolah yang dibuka sejak 1 November 2013 ini dibangun agar anak-anak Desa Lolowano bisa bersekolah dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah.

Mirisnya, sekolah yang memiliki 25 pengajar ini masih berdinding bilik bambu. Beberapa anak sekolah mengenakan sepatu, tetapi lebih banyak yang mengenakan sandal bahkan tanpa alas kaki.



Jika musim hujan tiba, anak-anak kebanyakan tidak bersekolah.

"Kalau sudah hujan anak berdiam saja di rumah karena biasanya sekolah banjir," ujar Enos Mandenas, pengelola sekolah tersebut.

Potret siswa SDN Mata Wee Tame adalah sebagian kecil dari banyaknya anak-anak kurang beruntung di daerah pelosok Indonesia. Tak hanya pendidikan layak, gizi juga menjadi masalah yang dialami anak-anak ini.

Jemi Ngadiono, penggagas komunitas 1000 Guru mengatakan,  banyak anak-anak yang tidak sarapan ketika berangkat sekolah. Akibatnya, mereka sudah merasa lapar pada pukul 08.00 atau 09.00.

"Saat lapar mereka akan pulang untuk makan, tapi enggak balik lagi ke sekolah," kata Jemi yang ditemui usai mengunjungi SDN Mata Wee Tame, Sabtu (9/9/2017)

Melihat kondisi itu, komunitas 1000 Guru bekerjasama dengan KFC Indonesia membuat Smart Center Project untuk menunjang gizi anak-anak pedalaman.

Smart Center Project sendiri sudah terlaksana sejak 2015, setelah Jemi melihat banyak sekali sekolah pedalaman yang murid-muridnya sangat memprihatinkan.

"Tingkat tuna aksara cukup tinggi sementara mereka harus menghadapi ujian sekolah. Kompetensi guru juga perlu ditingkatkan karena kebanyakan mereka lulusan SMA. Belum lagi kebutuhan gizi yang belum cukup, padahal itu penting supaya mereka bisa konsentrasi di sekolah," ungkapnya.

Program Smart Center Project diplikasikan dengan mengunjungi sekolah-sekolah oleh Komunitas 1000 Guru dan Tim KFC. Kunjungan diisi dengan mengajar anak-anak, pembagian hadiah, serta pemberian makanan bergizi. Saat ini, jangkauan Smart Center Project sudah ada di 45 tempat di pedalaman Nusa Tenggara Timur.

"Pendidikan merupakan salah satu fokus program sosial KFC sehingga kami akan melanjutkan dukungan kepada Smart Center Project yang dijalankan komunitas 1000 Guru," ujar Hendra Yuniarto, General Manager Marketing KFC Indonesia, pada kesempatan yang sama.

Komunitas 1000 Guru

Komunitas 1000 Guru digagas Jemi Ngadiono dengan konsep Travelling and Teaching, Jadi relawan selain travelling mereka juga berpartisipasi untuk mengajar.

Adapun relawan yang mengikuti kegiatan ini dikenakan sejumlah biaya yang sebagian untuk keperluan selama travelling, dan sisanya untuk donasi ke sekolah yang dikunjungi.

Digagas pada 22 Agustus 2012, program ini tak langsung berjalan mulus.

"Waktu pertama kali pesertanya cuma 2 orang," kenang Jemi sambil tertawa. "Baru pada 2013, mulai ada 30-an orang, tahun berikutnya mulai bertambah."

Kepedulian Jemi tak lepas dari masa lalunya yang tinggal di panti asuhan karena orang tua tidak mampu menyekolahkannya.

Setelah bekerja, Jemi gemar melakukan travelling. Dan dari travelling itulah, Jemi melihat sisi lain kehidupan.

"Waktu saya ke NTT, saya ketemu dengan anak-anak busung lapar. Saya punya mimpi suatu saat bisa kasih mereka makan. Akhirnya kesampaian sekarang saya bisa kasih bubur kacang hijau, telur, susu. Mungkin satu tahun sekali enggak bisa mengubah apa-apa, tapi daripada enggak sama sekali," kata dia.



Komunitas 1000 Guru kini telah menjangkau 31 provinsi dan 36 kota dari Sabang sampai Merauke.  

Upaya Jemi mengajak orang-orang untuk sesekali meluangkan waktu mengajar anak pedalaman diharapkan menggugah kesadaran pemuda Indonesia untuk turut berperan memajukan pendidikan di daerah-daerah yang masih tertinggal.


(DEV)