Ajarkan Anak tentang Perbedaan

   •    Kamis, 20 Jul 2017 14:19 WIB
bullyingtumbuh kembang anak
Ajarkan Anak tentang Perbedaan
Ilustrasi. (Thinkstock)

Metrotvnews.com, Jakarta: Masalah intoleransi di Indonesia tak hanya terjadi pada mereka yang sudah berusia dewasa. Remaja bahkan anak-anak bisa terpapar radikalisme dan intoleransi jika tak mendapatkan pemahaman yang baik dari orang terdekat tentang arti perbedaan.

Psikolog Anak dan Remaja Elizabeth Santosa mengatakan kemampuan anak untuk menyerap informasi baru dengan cepat membuat mereka mudah dan rentan disusupi ajarab kebencian, pemahaman radikal, dan intoleransi.

"Sudah saatnya masyarakat aware bahwa anak kita sangat rentan terhadap penanaman paham radikalisme, kebencian dan intoleransi," ujar Elizabeth, dalam Metro Plus, Kamis 20 Juli 2017.

Menurut Elizabeth, anak usia 3 tahun sudah mampu mengenali perbedaan. Yang paling mudah adalah yang tampak secara fisik. Misalnya kulit putih dan kulit hitam, atau dari sisi bahasa sehari-hari yang digunakan.

Terkadang, orang tua tidak memiliki kesadaran untuk memberikan pendidikan dan menanamkan pemahaman bahwa perbedaan itu ada, nyata. Kebanyakan dari mereka akan menghindar untuk membahas hal yang masih dianggap tabu seperti SARA.

"Padahal pengetahuan itu harus diberikan sedini mungkin. Saya katakan usia 3 tahun sudah bisa, mengapa tidak. Anak usia 3 tahun sudah mulai prasekolah saat itu kita bisa mulai mendiskusikannya dengan anak," katanya. 
 
Elizabeth mengatakan orang tua harus memberikan pemahaman kepada anak bahwa perbedaan itu ada. Karena itu penting untuk mengajarkan anak tentang toleransi, kasih dan tidak membeda-bedakan sesama.

"Banyak nilai lain yang bisa kita ajarkan cuma kegagalannya orang tua kadang tidak menanamkan radikalisme juga toleransi, cuek. Dan orang tua yang cuek itu justru yang berbahaya," jelasnya.

Ketika orang tua tak mampu mengajarkan apa itu radikalisme dan bagaimana bertoleransi, anak akan mendapatkan pemahamannya dari luar yang bukan tidak mungkin akan salah arah. 

Imbasnya, pengaruh buruk lingkungan luar akan membuat anak intoleran, tak mau menerima perbedaan dan akhirnya berujung pada perundungan terhadap orang lain yang dianggap berbeda. 

"Saatnya orang tua banyak diskusi, komunikasi, melatih pola pikir kritis, jangan merasa bahwa di sekolah anak kita baik-baik saja, kita tidak pernah tau," pungkas Elizabeth.




(MEL)