Tema Khusus Rona

Mengenal Laura Lazarus, Pramugari yang Selamat dari Dua Insiden Penerbangan Lion Air

Dhaifurrakhman Abas    •    Senin, 12 Nov 2018 15:15 WIB
lion airkisah inspiratifLaura Lazarus
Mengenal Laura Lazarus, Pramugari yang Selamat dari Dua Insiden Penerbangan Lion Air
Sosok Laura Lazarus, pramugari Lion Air yang alami dua kali kecelakaan. Ia kini juga jadi pembicara dan motivator di berbagai acara. (Foto: Laura Lazarus. Courtesy Photo by @davidtantra/@lauralazarus)

Jakarta: Perempuan berbaju merah itu duduk di sudut ruangan. Matanya menatap serius ke layar laptopnya yang berwarna silver. Sesekali matanya berkedip dan selebihnya tatapannya statis. Seakan sedang mengerjakan sesuatu yang butuh ekstra kehati-hatian.

Melihat wajahnya pasti sudah tak asing lagi. Ia adalah Laura Lazarus. Mantan pramugari Lion Air yang pernah alami dua kali kecelakaan. “Selamat datang. Silakan masuk, maaf ya berantakan,” ucap Laura mempersilahkan tim Medcom.id suatu siang awal November lalu.

Dalam ruangan berukuran 7x5 meter, Laura menuturkan kembali kisah hidupnya…

Laura kecil

Saat itu Laura hanya seorang bocah yang tumbuh besar di sebuah gang bilangan Kota, Jakarta Utara. Lingkungan sekitar amburadul. Dipenuhi Aroma alkohol dan tembakau di berbagai sudut.

Belum lagi jika malam tiba. Pria hidung belang kerap datang membawa rupiah. Menawar gadis setempat agar mau masuk ke dalam Corolla tua milik mereka. Sampai-sampai warga sekitar menyebut lokasi itu sebagai gang dosa.

Hidup dan tumbuh besar di lokasi itu membuatnya miris. Ingin sekali rasanya pindah rumah. Tapi apa lacur, mengeluh bukan pilihan bijak. Perekonomian keluarganya tak mapan. Ayahnya bekerja sebagai petugas Voorijder bantuan polisi (Banpol). Gajinya tak seberapa, hanya cukup memenuhi kebutuhan perut sehari-hari.

Sementara sang ibu bekerja mengurusi rumah tangga sambil berjualan kue. Sesekali ibunya terlihat sibuk menghibur Dewi jika merengek. Dewi merupakan anak bungsu di keluarga, sekaligus saudara Laura satu-satunya.

Dari kondisi itu, Laura mulai berangan-angan. Dia ingin sukses ketika dewasa nanti dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Saat itu hanya satu profesi yang terpikirkan di benaknya. Ya, menjadi Pramugari.

"Itu profesi yang paling sesuai, pikir saya waktu itu. Bergaji tinggi dan bisa meningkatkan status dan kesejahteraan keluarga," ungkap perempuan ramah ini.

(Baca juga: Menilik Rekam Jejak Keselamatan Penerbangan Lion Air)

Meraih mimpi

Tahun 2003, selepas tamat SMA, Laura mencoba meraih apa yang telah lama ia impikan. Lembar lowongan pekerjaan yang nongol di majalah maupun koran lokal disobek dan dikumpulkan.

Selanjutnya syarat-syarat pekerjaan itu dia cermati dan dilengkapi. Lantas, Laura buru-buru mendatangi kantor armada penerbangan satu persatu.

“Ada empat perusahaan yang saya lamar. Mandala, Pelita, Garuda dan Lion. Setelah itu saya diminta menunggu kabar balasan,” ujar Laura mengernyitkan dahi sambil mengingat kenangan 14 tahun lalu itu.

Hari berganti bulan. Kabar dari perusahaan dari perusahaan penerbangan itu sangat dinantikan. Ia berkali-kali menengok ke arah luar rumah, memastikan petugas pos datang mengantarkan surat balasan.

Ia juga rajin bolak-balik menghampiri telepon rumah menunggu panggilan telepon dari empat perusaahan tadi. Tapi kabar yang dinanti-nanti tak jua datang. Ia memilih sabar, sesekali berkomat-kamit melancarkan doa.


(Sosok Laura Lazarus, pramugari Lion Air yang alami dua kali kecelakaan. Ia kini juga jadi pembicara dan motivator di berbagai acara. Semangatnya tak pernah putus asa untuk memberikan spirit pada orang lain. Foto: Laura Lazarus. Courtesy Photo by @davidtantra/@lauralazarus)

Yang ditunggu

“Halo Laura. Kami dari Lion Mentari Airlines...”.

Suara penelepon siang itu barangkali menjadi yang paling merdu yang pernah Laura dengar. Ia ditelepon pihak maskapai dan dinyatakan lolos kualifikasi sebagai Flight Attendant PT. Lion Mentari Airlines (Lion Air).

Laura sumringah, tubuhnya gemetar, tanggannya mengepal. Boleh dikata, kabar yang sudah berbulan-bulan ia tunggu itu masuk dalam daftar momen tak terlupakan sepanjang hidupnya.

Dalam percakapan itu, si penelepon menyampaikan informasi yang macam-macam. Termasuk wajib mengikuti serangkaian pelatihan selama tiga bulan di pusat pelatihan Jembatan Tiga.

“Selesai menutup telepon itu saya lari. Saya langsung peluk mama. Saya bilang, Ma, akhirnya kehidupan kita berubah,” ujar Laura termenung.

Kehidupan baru

Tak butuh waktu lama, Laura mulai mengikuti serangkaian pelatihan pramugari. Di sana, ia dilatih macam-macam metode keselamatan saat kondisi darurat. Ia juga dilatih berenang serta evakuasi penumpang di perairan.

Yang jelas keselamatan penumpang jadi prioritas dalam pelatihan itu. Dan, hanya dalam satu setengah bulan, pelatihan tersebut kelar; lebih cepat ketimbang perjanjian di awal.

“Saya enggak tahu kenapa bisa cepat. Positifnya, mungkin karena kita digempur latihan dari pagi sampai sore hampir setiap hari. Sehingga barangkali itu memangkas waktu pelatihan,” ujarnya.
 

MOMEN yang ditunggu-tunggu tiba. Seragam bermode cheongsam berwarna merah marun itu diberikan kepada peserta yang lolos pelatihan. Tangis Laura pecah ketika mengingat-ingat kembali momen istimewa itu.


“Waktu pakai seragam itu saya bangga sekali. Dan saya berjuang sekuat tenaga untuk bisa mendapatkan itu,” ungkapnya sambil menitikan air mata.

Saat itu pula, Laura mulai melaksanakan tugas perdananya sebagai pramugari junior. Berjalan bersama captain pilot dan cabin crew, dengan koper yang ditenteng dari satu bandara ke bandara lainnya. Dari satu kota, ke kota lainnya. Hal itu semakin membuatnya bangga.

Ia juga merasakan perekonomian yang cukup meningkat untuk dirinya sendiri.  Tapi dia ingat, uang hasil kerja kerasnya bukan miliknya seorang. Ada tiga perut yang sedang menunggunya di rumah.

Memang sejak itu, Laura meresmikan dirinya sebagai tulang punggung keluarga. Apalagi ayahnya musti pensiun dari Vooridjer karena mengalami kecelakaan. Untuk itu Laura selalu mencuri kesempatan kalau ada panggilan bekerja sampai lembur.

Selain gaji bulanan, uang lembur bisa dikumpulkan. Bahkan seringkali melampaui besaran gaji pokok yang ia terima setiap bulan.

“Dalam sehari bisa mengudara hingga tujuh kali penerbangan. Kalau biaya itu bisa dibayar Rp15 ribu sampai Rp50 ribu per jam, tergantung waktunya. Mungkin beda sama yang sekarang ya,” tuturnya.

Tragedi 2004

Hampir dua tahun sudah ia bekerja di udara. Sampai-sampai dia lupa berapa total penerbangan yang sudah dia lalui. Tapi saat kami berbincang dengan Laura siang itu, ada dua penerbangan yang tak pernah ia lupakan.

Penerbangan pertama yakni Lion Air dengan nomor register PK-LMV. Saat itu pesawat berangkat dari Jakarta dan bersiap mendarat di Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, Sumatra Selatan.

Sebelum mendarat, pesawat mengalami beberapa turbulensi karena kondisi cuaca kurang baik. Beberapa kali Laura mencoba menenangkan penumpang yang mulai panik. Tapi kondisi saat itu tak bisa dibohongi. Mencekam.

Laura sempat terombang-ambing ketika mengumumkan persiapan pendaratan, sebelum akhirnya berhasil mencapai bangku dan mengenakan safety belt. Hingga akhirnya, pesawat yang mengangkut 154 penumpang itu berhasil mendarat dengan kondisi tergelincir hingga 115 meter dari landasan pacu.

“Seluruh ban pesawat amblas sampai kedalaman 30 sentimeter. Untunglah seluruh penumpang dan kru pesawat selamat dari kecelakaan itu,” ungkap dia.

Kejadian itu mengubah kehidupan Laura 180 derajat. Memang mulanya ia bangga menjadi seorang pramugari. Namun di satu sisi, ia mulai sadar bahwa pekerjaan ini juga menantang maut.

Apalagi ketika ia melihat ada ratusan manusia yang harus ia priotitaskan untuk diselamatkan; seolah memohon pada Juru Selamat agar bisa kembali bertemu keluarga masing-masing. Seketika itu, ia teringat pada keluarganya yang juga menunggunya di rumah.

“Saat itu ada ibu-ibu yang saya bantu tenangkan bahwa semua akan baik-baik saja. Bukannya tenang, tapi ia marah dengan kebohongan saya. Ia marah ketika melihat bibir saya pucat,” ungkapnya.

Usai kejadian, pihak maskapai merehatkan cabin crew yang bertugas. Mereka dibebastugaskan sementara waktu untuk bersaksi di hadapan pihak berwenang. Masa itu juga diberikan untuk menenangkan pikiran para cabin crew yang tengah trauma.

“Kami hanya bisa menangis, berpelukan semalaman. Bersama Dewi Sur yang juga bersama saya di penerbangan itu. Kemudian kami dipanggil KNKT dan sebagainya untuk dimintai keterangan,” kenangnya.

Setelah 3 bulan rehat, maskapai berlogo singa bersayap itu menghubungi Laura. Ia kembali dijadwalkan mengudara. Meski orang-orang di sekitarnya terheran-heran dengan keberanian dan keteguhan hati perempuan berdarah Manado-Belanda ini.

Ya trauma pasti ada,” ungkapnya.

Penerbangan terakhir

Sudah seminggu perasaan Laura tak karuan. Perasaannya tak enak. Untuk menenangkan pikiran, ia berencana mengajak keluarganya mencari angin malam. Kebetulan saat itu ia tengah gajian.

“Mau ajak keluarga makan-makan,” kata Laura.

Namun tak satupun orang di rumah. Ia mengambil telepon genggam dan mencoba menghubungi ibunya. Belum sempat mengetik nomor, ia keburu dihubungi pihak maskapai.

ketika itu, 30 November 2004, pesawat Lion Air dengan rute penerbangan Jakarta-Solo-Surabaya bersiap mengudara. Tapi, pesawat yang pernah kecelakaan di Palembang ini mengalami kekosongan cabin crew.

Hari itu Laura yang mendapat panggilan untuk mengudara. Seperti yang diungkapkan Laura, sebetulnya hari itu bukan jadwal penerbangannya. Ia bahkan telah membikin janji menyantap makan malam dengan keluarganya.

Tapi, mau tak mau, begitulah resiko pekerjaan transportasi udara. Acap kali jadwal yang sudah diatur berubah-ubah. Meski begitu, dengan lapang dada, Laura harus bergegas keluar rumah siang itu menuju bandara.

Saking buru-burunya, sampai-sampai telepon genggam miliknya tertinggal di rumah. Termasuk anting yang biasa ia gunakan tiap kali mengudara. “Saya enggak tahu ke mana pikiran saya waktu itu. Padahal regulasinya harus pakai (anting),” ungkapnya.

Perasaan tak enak itu muncul lagi. Tapi kali ini sangat berbeda. Ia tak tahu apa yang bakal terjadi dan hanya bisa mencurahkan suasana hatinya pada rekannya, Dewi Sur yang juga turut terbang bersamanya.

“Saya kalau ada apa-apa pasti ceritanya ke Dewi Sur. Kami menjadi dekat karena sama-sama mengalami kecelakaan di Palembang,” ungkapnya.


("I want to inspire people. I want someone to look at me and say, "Because of you, I didn't give up!!" Tulis Laura dalam blog pribadinya. Kini ia bangkit dan membuat perusahaan publishing di bilangan Jakarta Utara. Foto: Dok. Medcom.id/Dhaifurrakhman Abas)

Pendaratan di Solo

Cuaca di luar buruk. Pesawat yang hendak mendarat di Solo itu mengalami guncangan dahsyat selama penerbangan. Hari itu Laura kembali bertugas menginformasikan pada penumpang bahwa pesawat akan bersiap mendarat.

“Jadi selama di atas cuaca buruk berguncang. Lalu kita sampai jongkok dan enggak bisa berdiri,” katanya.

Tak lama, pikiran tak menentu itu mulai datang kembali. Sesaat setelah membenarkan posisi duduk, ia kembali mengutarakan perasaanya tersebut pada Dewi Sur yang duduk di sebelahnya.

Tapi belum sempat ia bercerita panjang lebar, dentuman keras terdengar. Wajah temannya itu dihantam food trolley pesawat yang terlempar ke arah depan diikuti suara benturan yang lebih kencang.

“Brak!!"

Seketika suasana mendadak gelap. Sayup-sayup suara bising mulai merasuk di telinga Laura. Tapi saat itu ia tak tahu apa yang terjadi.

Tubuhnya tak bisa digerakkan. Sementara pengelihatannya mengabur dan tak dapat menangkap cahaya. Hanya terdengar suara ringkih manusia yang menahan kesakitan dan meminta pertolongan.

Pesawat maskapai Lion Air dengan nomor penerbangan JT 538 tergelincir sampai keluar landasan pacu. Lalu masuk ke sawah sebelum akhirnya berhenti di kawasan pemakaman umum. Pesawat tersebut kemudian patah tepat di bagian tulisan 'Lion' pada badan pesawat. Sebanyak, 26 orang tewas, 55 orang luka berat, dan 63 orang luka ringan.

“Saya black out. Tiba-tiba suasana terang dan di situ ada suara yang bilang bahwa saya harus kembali. Ada banyak yang harus diceritakan,” ungkapnya.

Kondisi Laura

Kecelakaan di Solo itu benar-benar meruntuhkan mimpi Laura. Kondisinya ketika itu tak karuan. Pipinya hancur, sendi tangannya mengalami dislokasi, pinggangnya patah dan kakinya terkoyak sampai terlihat belulang.

Bahkan awalnya dia sempat dikira menjadi salah satu korban tewas. Beruntung jemari Laura terlihat bergerak di antara tumpukan puing pesawat.

Dia langsung diselamatkan oleh regu penyelamat enam jam pasca kecelakaan. Setelahnya dilarikan dari Solo ke Singapura untuk mendapatkan perawatan intensif selama delapan bulan.
 

“Impian sebagai pramugari hilang. Begitu hancurnya saya pada saat itu,” ujarnya.
 


Sejak saat itu ia karib dengan rasa sakit. Dia ingat bagaimana rasanya jahitan-jahitan itu menancap dan menutup luka di kulitnya. Pula rasa ngilu saat metal-metal itu dimasukan ke tulang pipi dan kakinya yang remuk.

Ia juga tak lupa bagaimana bosannya harus dirujuk sana-sini. Lalu menjalani 19 operasi selama selama 1,5 tahun. Ia juga harus rela menerima sahabat karibnya Dewi Sur tewas dalam kecelakaan tersebut.

Tapi derita belum selesai. Laura mendapati sikap perusahaan yang tidak bisa diandalkan. Hanya sampai tahun 2007 perusahaan itu membantu biaya perawatan. Setelah itu perusahaan yang sudah dianggapnya rumah kedua itu lepas tangan. Bahkan tanpa pemberitahuan maupun ucapan terima kasih Laura dianggap mengundurkan diri.

“Tahun 2007 gaji saya diberhentikan. Saya bingung tidak tahu harus tanya ke mana. Saya tanya kantor tak dapat jawaban. Nama saya tertulis resign di layar monitor,” ujarnya.


(Sebuah perusahaan penerbit buku-buku inspiratif yang menjadi tolak balik kehidupan dan tumpuan Laura menjalani masa hidupnya kini. Foto: Laura Lazarus. Courtesy Photo by @davidtantra/@lauralazarus)

Bangkit

Sejak saat itu Laura memilih berjuang sendiri. Dia ingat bahwa dirinya adalah tulang punggung keluarga.

Ia harus mencari rupiah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Juga untuk mencari tambahan dana pengobatan kondisinya yang saat itu belum sama sekali pulih. Misal suntikan di pinggang seharga Rp10 juta, pemindaian tulang dan sebagainya.

"Pokoknya kalau di total, bisa-bisa menghabiskan Rp30 juta sebulan," ujarnya.

Dia coba melamar ke setiap perusahaan yang ada dengan tertatih-tatih berjalan pelan menggunakan tongkat kruk. Tapi apa daya, lamaran tersebut tak digubris. Bahkan ada yang terang-terangan menolak dengan alasan kondisi tubuhnya dianggap tak sempurna.

Tak menyerah. Sesekali ia mencoba menjual kosmetik hingga bakmi di Mall Kelapa Gading. Pula membantu ibunya berjualan kue ke rumah-rumah tetangga. Meskipun tanggannya saat itu masih terasa ngilu ketika memasak dan berjalan kesana kemari.

Di sela-sela masa pencarian itu ia mencoba menulis-nulis kisahnya di kertas. Sempat terlintas dalam benaknya untuk menjadikan kisah pelik tersebut menjadi sebuah karya inspiratif.

Dengan kemampuan seadanya, dan dibantu orang-orang sekelilingnya, akhirnya tulisan itu menjadi sebuah karya tanpa judul. Seorang temannya tiba-tiba menelpon. Sambil tersengal-sengal, dia meminta Laura menamai buku tersebut dengan judul Unbroken Wings.

"Katanya dia mendapat inspirasi judul itu ketika sedang mandi," katanya.

Tak disangka, buku yang terbit pada 2008 itu laku keras. Buku ini menarik minat pembaca yang tengah mencari inspirasi atau mencari jalan keluar atas persoalan yang dialami.

"Ini juga berkat bantuan seorang pria. Dia membeli buku saya dan membacanya sejenak. Kemudian mengundang saya ke acaranya. Pria itu adalah Andy F. Noya," kenang dia.

Dari situ, pundi-pundi rupiah mengalir deras. Uang demi uang ia coba kumpulkan untuk membangun perusahaan penerbit buku. Mahfum, jika terus-terusan menitip terbitkan di tempat orang, untungnya tak begitu banyak.

Ia tahu, untuk membuat perusahaan penerbitan buku tidaklah murah. Biayanya membutuhkan rupiah yang bejibun. Setidaknya itu informasi yang ia dapatkan dari hasil risetnya.

Tapi ia harus berani membayar segala biaya itu. Sambil mengecek duit yang tersisa di dompet, ia mendatangi kantor notaris dan bertanya terkait total biaya yang harus Ia keluarkan.

"Sudah dibayar oleh tuhan," ujar Laura mengulangi kalimat notaris tersebut.
 

I want to inspire people. I want someone to look at me and say, "Because of you, I didn't give up!!"
 

Growing Publishing

Di sela-sela sesi wawancara, Laura mengajak kami beranjak masuk ke sebuah ruangan berukuran 7x5 meter yang berada di WTC Mangga Dua, Jakarta Utara itu. Di dalam ruangan terlihat kertas-kertas berserakan, saling tiban di sudut ruangan.

Beberapa dus penuh buku yang sudah disegel terlihat bertumpuk-tumpuk siap disetor dan diterbitkan. Di depan pintu ruangan terdapat banner besar berwarna hijau juga nila.

"Growing Publishing Bertumbuh Dalam Anugrah dan Kasih,".

Ya, inilah Growing Publishing. Sebuah perusahaan penerbit buku-buku inspiratif yang menjadi tolak balik kehidupan dan tumpuan Laura menjalani masa hidupnya kini.




(TIN)