Pengamat: 1 dari 3 Pengguna Media Sosial tidak Bahagia

   •    Selasa, 29 Aug 2017 10:31 WIB
media sosialpsikologi
Pengamat: 1 dari 3 Pengguna Media Sosial tidak Bahagia
Ilustrasi. (Thinkstock)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengamat Sosial Devie Rahmawati mengatakan berdasarkan studi yang dilakukan oleh Humboldt University menyebutkan satu dari tiga pengguna media sosial tidak bahagia. Hal ini dilatarbelakangi rasa iri yang mendorong seseorang meniru perilaku orang yang dilihatnya di media sosial.

"Ketika kita melihat orang lain katakanlah orang terdekat yang mungkin lebih sukses timbul rasa iri kemudian rasa sepi yang mendorong kita mengopi atau melakukan hal tidak produktif lainnya," ujar Devie, dalam Newsline, Senin 28 Agustus 2017.

Devie mengatakan ketika rasa iri timbul dan ingin meniru apa yang dilakukan orang lain, seseorang akan masuk dalam pusara candu digital. Berharap akan mendapatkan badai likes dan akan sulit keluar dari dalamnya.

Bahkan, Devie menyebut untuk berhenti dari candu digital ada yang sampai menghabiskan waktu 5 tahun melakukan perawatan dan rehabilitasi dari adiksi media sosial.

"Cara paling gampang untuk menghindari candu adiksi, tetap eksis tetapi nyaman bagi diri kita sendiri dan orang lain," katanya. 

Devie mengatakan ada dua kemungkinan orang menyukai unggahan seseorang di media sosial yang sifatnya memamerkan kemewahan, keindahan dan sejenisnya; orang yang tertarik atau hanya suka.

Orang yang tertarik dengan terus melihat setiap unggahan di media sosial belum tentu menyukai pengunggah secara personal, bisa jadi sebaliknya. Benci. Lain halnya dengan orang yang benar-benar suka.

Menurut Devie untuk benar-benar mendapatkan tanda suka dari pengguna media sosial lain pastikan bahwa apa yang diunggah bermanfaat bagi orang lain. Kata Dia, tak selalu tentang diri sendiri.

"Misalnya tentang makanan yang baik. Kalau kita konsisten setiap hari tentang itu, Saya yakin kita punya 'jemaah' lebih banyak. Artinya  kita mendapat badai likes tadi tanpa orang menghujat kita di tempat lain," kata Devie.

Devie mengatakan yang perlu disadari semua orang bahwa tingkatan tertinggi dalam marketing di media sosial adalah ketika kita terkenal atau hebat bukan disampaikan oleh diri sendiri melainkan berdasarkan pengakuan orang lain. 

Artinya, kata Devie, sesuatu yang bernilai akan menimbulkan dampak yang luas. Tanpa orang lain atau sorotan media sosial pun seseorang tetap harus berperilaku baik.

"Jadi memang media sosial itu menyediakan madu sekaligus racunnya. Racunnya itu ketika kita tidak bisa berusaha menahan 5 detik saja untuk melakukan apapun. Ini yang mungkin tidak atau jarang orang pahami. Yang sekarang terjadi, dalam hitungan nano second kita tunjukan ke media sosial," jelasnya.




(MEL)