Waspada Memberikan Gawai pada Si Kecil

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 20 Sep 2017 16:41 WIB
perkembangan anak
Waspada Memberikan Gawai pada Si Kecil
Psikolog klinis anak, Firesta menyarankan agar orangtua memerhatikan dengan seksama bagaimana aktivitas si kecil dengan gawai. (Foto: Parents.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Orangtua millennial cenderung melibatkan gawai dalam mendidik sang buah hati. Namun, sebelum lebih jauh mengandalkan teknologi, orangtua sebaiknya tahu dampak positif dan negatif dari alat elektronik tersebut.

"Banyak manfaat dari pengenalan gawai pada anak, salah satunya menstimulasi anak dalam berbagai hal seperti perkembangan kognitif, berpikir kritis, imajinasi, kreativitas, dan memecahkan masalah," terang psikolog klinis anak Firesta Farizal, M.Psi., Psikolog, selaku Direktur Mentari Anakku saat ditemui Metrotvnews.com dalam acara soft launching "Game Anak Sholeh" di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, Rabu (20/9/2017). 

Selain itu, kemampuan bahasa dan literasi anak juga bisa meningkat dan keingintahuan anak akan sesuatu bisa terfasilitasi. Misalnya, anak yang tertarik dengan tata surya bisa mencari tahu atau medapatkan informasi tersebut melalui internet.



Namun, layaknya pisau bermata dua, gawai juga bisa memberikan efek negatif bagi perkembangan anak bila tak diawasi. 

"Beberapa hal seperti konten yang tak layak untuk anak seperti adanya adegan pemukulan yang ditemukan dalam game dapat membuat mereka berpikir kekerasan adalah hal yang biasa," Firesta memberi contoh. 

(Baca juga: Game Edukasi Bantu Anak Melek Teknologi dengan Cara Positif)

Selain itu, anak yang terlalu melek pada teknologi juga dapat membuat anak menjadi kecanduan. Dampak paling umum dari perilaku tersebut adalah anak menjadi tak peduli lagi dengan lingkungan sekitarnya, dimana hal tersebut akan berpengaruh pada kehidupan sosial. 

"Karakter anak pun menjadi ikut terganggu ketika mereka terpapar teknologi gawai secara berlebihan, misalnya mereka menjadi ingin segalanya mudah dan cepat. Ketika melakukan atau sesuatu yang lambat dan sulit, mereka akan merasa cepat bosan," terang Firesta.

Kemudian, anak juga menjadi mudah menyerah bila mengalami hal yang sulit. Mereka malas berusaha karena terbiasa diberi kemudahan. Contohnya, anak enggan bermain puzzle yang sebenarnya karena menganggap bermain puzzle di gawai lebih mudah karema tinggal menggeser dengan jari telunjuk. 



Si kecil juga cenderung tidak peka pada keadaan sekitar karena ia hanya melihat ke gawai sepanjang hari tanpa tahu apa yang terjadi di sekelilingnya.  

Oleh karena itu, Firesta menyarankan agar orangtua memerhatikan dengan seksama bagaimana aktivitas si kecil dengan alat elektronik tersebut. Keterlibatan orangtua adalah kunci utama untuk menghindari hal-hal negatif tersebut. 

"Intinya, orangtua terlibat ketika anak bermain gawai sehingga bisa mengetahui dan mengawasi anak. Selain itu, orangtua juga perlu melek dengan teknologi supaya bisa tidak kecolongan," sarannya.










(TIN)