Pameran Busana Muslim Australia Telah Dibuka

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 01 Mar 2018 19:32 WIB
gayaaustraliafesyen
Pameran Busana Muslim Australia Telah Dibuka
Sebuah pameran bertajuk Faith Fashion Fusion: Gaya Perempuan Muslim di Australia digelar di Museum Sejarah Jakarta pada 1-18 Maret 2018. (Foto: Dok. Medcom.id/Sri Yanti Nainggolan)

Jakarta: Sebuah pameran bertajuk Faith Fashion Fusion: Gaya Perempuan Muslim di Australia digelar di Museum Sejarah Jakarta pada 1-18 Maret 2018. Pameran tersebut merayakan kisah perempuan Muslim Australia.

Dalam pembukaan acara, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Australia Allaster Cox mengungkapkan bahwa dirinya senang bisa membawa pameran yang sudah ada sejak tahun 2012 tersebut ke Jakarta.

"Kami dari pemerintah dan kedutaan Australia merasa bangga bisa mendapatkan kesempatan ini di Indonesia. Melalui pameran ini, kami ingin menunjukkan realitas orang Islam di Australia saat ini, yang bisa bebas mengekspresikan diri," tukas Cox dalam sambutan di Museum Sejarah Jakarta, Kamis 1 Maret 2018.

Dalam acara tersebut, hadir juga Fery Farhati Ganis selaku Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DKI Jakarta.

(Baca juga: 39 Desainer Unjuk Gigi dalam Solo Batik Fashion 2017)

Ia menganggap pameran yang dikembangkan oleh Museum of Applied Aets and Sciences di Sydney tersebut sangat bagus karena menampilkan hasil-hasil karya desainer muslim Australia dan Indonesia serta menceritakan kisah-kisah inspiratif dari para wanita Muslim di Negeri Kangguru tersebut.

"Pameran ini menunjukkan tak ada keterbatasan dalam berekspresi para wanita Muslim di Australia, banyak cerita yang bagus. Saya sangat menganjurkan untuk menontonnya," ujar istri Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tersebut.

Sebelum pembukaan, terdapat mini fashion show dari perancang sekaligus blogger busana Muslim Australia Delina Darusman Gala dan perancang busana Indonesia Jenahara Nasution.

Saat ini, jumlah penduduk Muslim di Australia telah mencapai lima sampai enam persen dari total populasi, yaitu 300 ribu orang. Kebanyakan dari mereka berasal dari Timur Tengah dan Asia Tenggara. 








(TIN)