Untuk Siap Hadapi 2020, Anak Butuh Dua Keahlian Berikut

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 04 Oct 2016 17:01 WIB
pendidikan anak
Untuk Siap Hadapi 2020, Anak Butuh Dua Keahlian Berikut
Membiasakan matematika dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat diri kita menjadi kreatif. (Foto: Metrotvnews.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Seorang pakar matematika dari Universitas Gadjah Mada mengungkapkan, bahwa anak Indonesia membutuhkan setidaknya dua keahlian dalam menghadapi tantangan di tahun 2020.

"Dibutuhkan keahlian memecahkan masalah (problem solving), dan berpikir kritis (critical thinking) untuk generasi sekarang ini agar bisa lebih berinovasi," tukas Prof. Dr. rer. nat. Widodo, MS, dalam Talk Show 21st Century Math Skilld: Change The Focus From Calculation to Exploration, Selasa (4/10/2016).

Prof. Widodo menerangkan, teknologi yang berkembang saat ini turut mendukung berkembangnya dua keahlian tersebut. Misalnya, dalam bidang keahliannya yaitu matematika, kalkulator dapat membantu untuk mengeksplorasi setiap langkah dalam pemecahan masalah dengan cara berpikir kritis.

"Jangan menjauh dari teknologi karena itu tak akan berhenti. Teknologi membuat menjadi lebih menarik, mudah diikuti, dan tidak menghilangkan proses," tambahnya.

Maksud dari tidak menghilangkan proses di sini adalah tahapan dimana teknologi tidak langsung berpacu dalam pada hasil akhir, namun melalui beberapa langkah yang nantinya mengasah kemampuan untuk berpikir lebih kritis dalam memecahkan masalah. 

Proses tersebut, kelak juga akan memunculkan keahlian kreativitas yang juga dibutuhkan generasi masa kini.

(Baca juga: Kecerdasan Anak Berawal dari Pencernaan yang Sehat)

Selain tiga hal tersebut, World Economic Forum juga menyebutkan 10 keahlian lain yang dibutuhkan untuk menghadapi tahun 2020 yaitu manajemen orang, koordinasi dengan orang lain, cerdas secara emosional, penilaian dan pengambilan keputusan, negosiasi, serta fleksibilitas kognitif.

Matematika, sebagai salah satu ilmu yang selalu digunakan dalam kehidupan sehari-hari, jelas membutuhkan dua keahlian tersebut. Prof. Widodo menjelaskan bahwa untuk bisa menyukai matematika terlebih dahulu, seseorang harus mencintai pelajaran itu.

"Belajar matematika perlu dilakukan terus-menerus agar kita bisa mencintainya. Ini tak akan sulit bila dilakukan sesuai konteks," terangnya soal matematika.

Menurutnya, rasa suka pada matematika bisa dimulai dengan memasukkannya ke dalam konteks yang disukai, seperti pada musik yang melibatkan kecepatan atau tempo dalam bermain.

"Membiasakan matematika dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat diri kita menjadi kreatif juga," tutupnya.







(TIN)