Gawai Bukan Sebab Utama Anak Melakukan Agresi

   •    Senin, 23 Apr 2018 13:51 WIB
tawuran pelajar
Gawai Bukan Sebab Utama Anak Melakukan Agresi
Ilustrasi. Perilaku tidak disiplin para siswa yang dapat membahayakan keselamatan dan memicu tawuran antarpelajar. (Foto: MI/Bary Fathahillah)

Jakarta: Penggunaan gawai secara berlebihan sering kali dikaitkan dengan perilaku menyimpang pada anak. Tak hanya menghambat tumbuh kembang, gawai juga disebut berkontribusi membentuk emosi anak sehingga mudah melakukan kekerasan.

Namun, menurut Psikolog Anak Elizabeth Santosa, gawai bukan satu-satunya penyebab anak mudah melakukan kekerasan. Anak yang mengakses tayangan kekerasan memang berpeluang melakukan hal yang sama tapi ada pula yang tidak.

"Kita tidak bisa terus menyalahkan gawai karena perilaku itu tidak bisa dilihat dari layar. Ada anak yang agresif setelah menonton tayangan ada pula yang tidak. Berarti kan pemicu, sebab akibatnya bukan gawai," katanya, dalam Metro Pagi Primetime, Senin, 23 April 2018.

Elizabeth mengatakan gawai hanya salah satu faktor yang memicu sifat agresif anak. Banyak kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak justru berasal dari meniru tindakan serupa yang sudah ada. 

Baca juga: Tawuran Siswa SD Bentuk Agresi tak Wajar

Sikap agresif anak seperti mudah tersulut emosi bahkan melakukan kekerasan, kata Elizabeth, harus dikaji secara komprehensif. Tak hanya pengamatan, observasi, sampai dengan wawancara dinilai perlu dilakukan.

"Pendekatan dan kajiannya perlu dilakukan komprehensif dengan metode community base. Tidak hanya untuk anak, tapi juga orang tua termasuk lingkungan dan warga di sekitarnya," ungkap dia.

Elizabeth menambahkan kecenderungan anak melakukan kekerasan pada dasarnya dapat dicegah. Asalkan orang tua dan keluarga termasuk lingkungan sekitar banyak menanamkan nilai kebaikan dan kasih sayang.

Tak lupa, lingkungan juga perlu memiliki media untuk menyalurkan energi anak. Misalnya kegiatan olahraga atau kegiatan keagamaan selepas sekolah untuk menghindarkan anak dari kegiatan yang tidak perlu.

"Supervisi juga perlu. Sesibuk apa pun orang tua jangan sampai tidak tahu anak main ke mana dan dengan siapa saja," jelas Elizabeth.




(MEL)