Ini Alasan Mengapa Kaum Milenial Cenderung Tak Setia

Sri Yanti Nainggolan    •    Sabtu, 05 Aug 2017 16:42 WIB
selingkuh
Ini Alasan Mengapa Kaum Milenial Cenderung Tak Setia
Ini Alasan Mengapa Kaum Milenial Cenderung Tak Setia (Foto: istock)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kenyamanan yang ditemukan pada rekan kerja atau orang asing yang ditemui di tempat tak terduga tak jarang dapat berujung pada perselingkuhan.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam  Journal of Sex Research menemukan bahwa kaum milenial cenderung berselingkuh untuk alasan yang berhubungan dengan kebebasan dan ketergantungan.

Para peneliti dari University of Tennessee menemukan bahwa kebanyakan orang yang berusia 20an berselingkuh dengan alasan ketergantungan, di mana mereka melakukan hal tersebut karena merasa kurang intim, termasuk komunikasi yang jarang,  dan merasa tak dicintai dalam hubungan yang dijalani.

Sementara itu, kelompok lain mengkhianati pasangan mereka karena mereka menginginkan kebebasan (seperti identitas dan kemandirian) yang tidak didapatkan.  

Menurut para peneliti, perselingkuhan adalah hal yang umum pada rentan usia tersebut karena ini termasuk dalam fase menuju dewasa di mana pada tahap ini kaum milenial mencoba menyelesaikan masalah dalam hidup.

"Bisa jadi berselingkuh adalah salah satu cara yang dilakukan seseorang untuk melalui kebutuhan perkembangan dalam hal kebebasan dan ketergantungan," ujar pemimpin studi Jerika Norona yang sedang magang di San Francisco VA Medical Center.

Mereka yang berusia 20-an kemungkinan menganggap berselingkuh adalah cara untuk membangun kebebasan sebagai orang dewasa, sementara beberapa orang menganggapnya sebagai ketergantungan dalam hubungan. Tipikal peselingkuh ini ingin mendapatkan makna cinta dan hidup, namun tak tahu bagaimana cara mencapainya dan mencoba untuk mencari tahu. Berselingkuh adalah salah satu cara dalam eksplorasi diri.

Banyak milenial saat ini tengah berjuang mencari pekerjaan yang membuat mereka bisa membayar berbagai kebutuhan hidup. Beban ekonomi tersebut menjadi beban mental utama dimana merekamerasa tujuan hidup semakin jauh untuk dicapai. Oleh karena itu, dalam masa transisi, mereka menjadi tak mampu mengatur hubungan intimasi yang menyehatkan karena tengah berjuang secara mental dan emosional.

Namun, bukan berarti hal tersebut menjadi alasan untuk berselingkuh.

Studi tersebut mensurvei 104 orang dewasa yang rata-rata berusia 22 tahun yang berselingkuh dalam enam bulan terakhir. Sebelumnya, para partisipan diminta untuk membaca sebuah paragraf tentang tipikal perselingkuhan agar lebih nyaman saat berdiskusi.

Para peneliti meminta sesara mendetail tentang pengalaman romantis saat ini dan dulu seperti mengapa mereka memilih lebih intim dengan selingkuhan daripada pasangan dan seberapa dekat mereka dengan pasangan.

Sebanyak 76 orang memilih alasan ketergantungan untuk berselingkuh, sementara 21 orang merasa kebebasan adalah motivasi untuk berkhianat. Beberapa alasan lain berupa mencari kesenangan dan berada di bawah pengaruh alkohol.

Bentuk keterikatan juga turut berperan dalam fenomena tersebut. Para peneliti menyimpulkan ada dua jenis keterikatan yang berhubungan dengan perselingkuhan. Pertama, mereka yang menghindari untuk terlalu dekat dengan pasangan cenderung percaya bahwa pasangan mereka tak sesuai harapan. Kedua, mereka yang takut kehidangan kedekatan dengan pasangan cenderung menekan pasangan mereka dengan alasan tak diberikan ruang seperti yang diinginkan.

 


(ELG)