Mimpi Seorang Pasien Peritoneal Dialysis (PD) yang Mengejar Cita-cita

   •    Jumat, 11 Aug 2017 09:15 WIB
kisah
Mimpi Seorang Pasien Peritoneal Dialysis (PD) yang Mengejar Cita-cita
Penyakit ginjal sering disebut dengan ‘silent disease’ karena tidak selalu menunjukkan gejala awal. Sakit ginjal adalah penyakit yang menjangkit seumur hidup dan tidak dapat sembuh dengan sendirinya. (Foto: Riska Deby Endah Wulandari/Fortune PR)

Metrotvnews.com, Jakarta: Aliefka (13) pergi ke sekolah, bermain bersama teman-temannya dan memiliki hidup yang normal kecuali satu hal, ia mengalami sakit gagal ginjal kronik (GGK). Pada umumnya GGK menyerang orang dewasa tetapi juga dapat terjadi pada anak-anak.

Penyakit ginjal sering disebut dengan ‘silent disease’ karena tidak selalu menunjukkan gejala awal. Sakit ginjal adalah penyakit yang menjangkit seumur hidup dan tidak dapat sembuh dengan sendirinya, tetapi beberapa tipe sakit ginjal dapat diberikan perawatan-khususnya jika diketahui lebih awal-yang mana penting untuk mengenali faktor risiko serta gejala-gejala awalnya.

Ibu Indri, ibu dari Aliefka masih terngiang di hari mengerikan pada bulan Juni 2015, saat putranya divonis mengalami gagal ginjal.

“Ketika dokter mengabari saya tentang hal itu, saya merasa mati rasa. Kaki saya lemas. Saya hanya bisa menangis di lorong rumah sakit dan memikirkan kondisi anak saya. Sulit rasanya bagi saya untuk menerima takdir ini. Sebagai seorang ibu, hati saya hancur mendengar vonis tersebut dan mempertanyakan Tuhan, mengapa harus anak saya yang terkena gagal ginjal?”



Menjalani cobaan yang berat, Aliefka tetap berpikir positif dan optimis. Ia dapat menerima kondisinya dan tetap berusaha menggapai mimpinya.

Pada hari ia divonis gagal ginjal, Aliefka berkata, “aku bisa menerima apa yang terjadi padaku namun tidak ingin pasrah dengan keadaan. Aku ingin menggapai mimpi dan belajar bahasa Inggris lalu bekerja di luar negeri. Semoga mimpi itu bisa terwujud suatu hari nanti.”

Sikap optimis Aliefka memberikan semangat dan kekuatan untuk ibunya. “Kalau anak saya tidak pernah mengeluhkan kondisinya, kenapa justru saya yang mengeluh? Jadi, tugas saya sebagai orangtua adalah mendukung cita-citanya dan mewujudkannya menjadi nyata,” jelas ibu Indri.

Ia dirujuk untuk melakukan cuci darah. Namun perjalanan dari Balikpapan ke Jakarta terbukti menghabiskan waktu untuknya dan Aliefka. Putranya kehilangan hari-hari di sekolah.

Merasa frustasi, Indri hanya meratapi dan berpikir bagaimana agar ia tetap bisa membesarkan anaknya serta memberikan kualitas hidup yang lebih baik. Pada titik ini, Indri diperkenalkan dengan metode Peritoneal Dialisis (PD), yaitu metode cuci darah yang telah terbukti memberikan keleluasaan bagi pasien untuk dapat cuci darah di rumah.

Metode PD bekerja dengan membersihkan racun dalam darah dan membuang cairan berlebih menggunakan membran pada tubuh, yaitu membran peritoneal, sebagai penyaring racun. Membran peritoneal menyaring racun serta cairan dari darah melalui cairan. 

Cairan yang mengandung racun akan dikeringkan dari rongga peritoneal setelah beberapa jam dan berganti dengan cairan baru. Ini disebut pergantian. Pada umumnya pasien membutuhkan 3-4 kali pergantian di setiap hari dengan waktu selama 30 menit. Pada saat proses penggantian, pasien dapat menjalani aktivitas dengan normal.

Dr. Cahyani Gita Ambarsari, Spesialis Nefrologi pada anak di rumah sakit rujukan nasional memaparkan, “Terapi PD untuk GGK adalah pilihan banyak pasien anak di beberapa negara Eropa dan penggunaannya terus meningkat ke berbagai negara lainnya, termasuk Indonesia.

PD dapat digunakan untuk pasien anak usia berapa pun dalam menunggu tujuan utama perawatan yang sesungguhnya, yaitu transplantasi ginjal.”

“Dengan menjalani PD, putra saya bisa pergi ke sekolah, bermain bersama teman-temannya, dan bersosialisasi. Menjalani perawatan PD tidak dijadikan beban olehnya. Bahkan dia sudah bisa memasang sendiri peralatan PD, tanpa diperintahkan oleh saya,” jelas Indri.

“Ini merupakan tugas orangtua untuk memberikan perawatan terbaik bagi anak-anak, membesarkannya dan menjadikan mereka sukses. Jadi kita harus gigih serta disiplin”, lanjut Indri.

Aliefka adalah satu dari ribuan anak yang mengalami penyakit mematikan tersebut setiap tahunnya. 

Penelitian menunjukkan di Indonesia, angka penderita GGK pada anak-anak terus meningkat. Berdasarkan penelitian oleh UNICEF pada World Children Report 2012, Indonesia berada pada peringkat pertama di negara ASEAN dengan jumlah anak obesitas terbanyak, yaitu sebesar 12,2 persen, hal tersebut berpotensi untuk meningkatkan angka gagal ginjal pada anak.

Berbicara mengenai Gagal Ginjal Kronik (GGK), dr. Cahyani Gita Ambarsari, menambahkan, “beberapa gejala gagal ginjal pada anak adalah sebagai berikut":

(Baca juga: 6 Tanda Ginjal Mengalami Kerusakan)

· Tangan dan kaki membengkak, area sekitar mata membengkak

· Tidak nafsu makan

· Frekuensi buang air kecil yang menurun atau bahkan meningkat

· Berubahnya warna urine menjadi kemerahan dalam waktu lama, hal ini mengindikasikan adanya darah, biasanya urine akan berbusa karena adanya protein

· Pusing karena tekanan darah yang tinggi

· Gejala seperti flu, mual, muntah, lesu, kelelahan, dan tidak nafsu makan

· Pertumbuhan cenderung lambat dibanding anak seusia lainnya

· Kesulitan berkonsentrasi dan prestasi yang buruk di sekolah

Apabila anak sudah menunjukkan gejala-gejala tersebut, orangtua harus segera membawa anaknya ke spesialis nefrologi anak, agar anaknya dapat diberikan perawatan yang sesuai.

Indri sangat setuju, “mendeteksi penyakit pada waktu yang tepat dan memilih dialisis sebagai perawatan membantunya untuk bangkit dalam menjalani hidup. Sebagai orangtua, saya merasa melihat putra saya dapat tetap tumbuh dan berinteraksi sebagai anak usia 13 tahun yang normal.”

“Saya membayangkan hari dimana segala cita-cita Aliefka dapat terwujud,” ungkap Indri sambil berlalu memandang putranya bermain bersama teman-temannya.










(TIN)