Dampak Swafoto pada Citra Diri Remaja

Raka Lestari    •    Rabu, 04 Jul 2018 09:00 WIB
keluargapsikologiperkembangan remaja
Dampak Swafoto pada Citra Diri Remaja
Berikut adalah beberapa dampak dari swafoto brlebih bagi para remaja menurut ahli. (Foto: Pixabay.com)

Jakarta: Sebuah studi yang dipublikasi dalam The Journal of Early Adolescence menemukan bahwa mereka yang mengunggah banyak swafoto secara daring memiliki tingkat kesadaraan yang tinggi pada penampilan. Kesadaran tersebut berhubungan dengan meningkatkan risiko pencitraan diri negatif. 

"Anak-anak ini mencari validasi dalam hal penampilan fisik mereka. Jadi, mereka mungkin sudah condong ke masalah citra diri negatif sebelum mereka membagikan foto-foto itu," kata asisten profesor klinis di Northwestern University in Evanston, Nancy S. Molitor, PhD.

Berikut adalah beberapa dampak dari swafoto brlebih bagi para remaja menurut ahli, seperti dilansir Healthline. 

1. Ketidaksempurnaan citra diri
Laporan Media Common Sense 2015 menemukan bahwa gadis remaja khawatir tentang bagaimana mereka dipandang di dunia maya, dengan 35 persen takut foto mereka tidak menarik dan 27 persen takut melihat foto yang mereka unggah sendiri. 

Selain itu, 22 persen mengaku merasa lebih buruk tentang diri mereka ketika foto-foto mereka diabaikan. Citra diri mereka juga merasa terpukul ketika tidak mendapatkan jumlah suka dan komentar yang mereka harapkan.

2. Faktor klik
"Anak-anak ini telah melihat banyak acara realitas, dan dalam arti, banyak dari mereka yang melakukan koreografi dan mengarahkan kehidupan daring mereka sendiri untuk mencerminkan apa yang mereka lihat," katanya.
 
(Baca juga: Dapatkah Media Sosial Membantu Remaja Mengatasi Depresi?)


("Anak-anak ini mencari validasi dalam hal penampilan fisik mereka. Jadi, mereka mungkin sudah condong ke masalah citra diri negatif sebelum mereka membagikan foto-foto itu," kata asisten profesor klinis di Northwestern University in Evanston, Nancy S. Molitor, PhD. Foto: Pixabay.com)

"Mereka bahkan tidak menyadari bahwa mereka tidak otentik dan mereka tidak mengalami momen itu. Dan itu adalah hal yang saya khawatirkan terutama, apakah mereka akan sangat fokus pada dunia luar (Bagaimana saya terlihat? Apa yang orang pikirkan tentang saya?) Bahwa mereka akan kehilangan kontak dengan diri mereka sendiri. Mereka akan kehilangan dampak dari pengembangan hubungan yang alami dan otentik."

3. Pengalaman individu
Ilyssa Salomon, seorang mahasiswa doktor di University of Kentucky, melakukan penelitian terbaru yang meneliti remaja dan narsis.

"Orang tua dan dokter harus memahami bahwa penggunaan media sosial adalah pengalaman yang sangat individual, di mana remaja memiliki banyak kebebasan dalam apa yang mereka unggah dan lihat, serta bagaimana mereka akan menafsirkan apa yang mereka lihat," tukas Salomon. 

Lebih banyak remaja dapat masuk ke dalam kategori bersedia menyesuaikan perilaku untuk menyesuaikan diri daripada yang disadari oleh orang tua. Media sosial sering dapat memainkan peran besar dalam hal itu.

Sebuah studi 2014 di Journal of Adolescent Health menemukan bahwa paparan foto remaja yang berlebihan berkaitan dengan peingkatan risiko merokok dan minum alkohol. 

4. Kontrol swafoto
Salomon menunjukkan bahwa karena remaja mengalami banyak perubahan fisik dan psikologis selama masa pubertas, beberapa fluktuasi dalam citra tubuh mereka adalah normal.

Dia juga menekankan bahwa media sosial itu sendiri bukanlah musuh dan tujuan orang tua harus membantu remaja mereka menavigasi media sosial dengan cara yang positif.

"Ketika remaja berinteraksi dengan media sosial, mereka belajar apa nilai budaya tentang tubuh mereka, apakah mereka bermaksud atau tidak," katanya. 

"Jika orang tua ingin memainkan peran yang lebih aktif dalam membentuk nilai-nilai ini, maka mereka perlu melakukan percakapan dengan remaja mereka tentang citra tubuh dan bagaimana media sosial dapat memengaruhinya."





(TIN)