Tips Arahkan si Kecil yang Bossy

Yatin Suleha    •    Selasa, 08 Nov 2016 09:00 WIB
perkembangan anak
Tips Arahkan si Kecil yang Bossy
(Foto: Embassysuites3.hilton)

Metrotvnews.com, Jakarta: Si kecil suka memerintah Anda? Ia sama sekali bukan ingin jadi bossy terhadap Anda. Dra. Suhati Kurniawati, psikolog perkembangan anak, dari LPT-UI (Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia) memberikan tipsnya untuk mengarahkan sikap 'bossy' pada si kecil:

"Coba  Anda atur supaya ia melakukan sendiri hal-hal yang mulai mau dicobanya pada usia 3-5 tahun ini. Berikan bantuan tak langsung dengan menyediakan peralatan yang sesuai dengan ukuran tubuhnya dengan warna dan corak yang menarik," saran Suhati.

Berikut ini tips mengarahkan sikap "bossy" si kecil:

• Kesabaran yang tinggi harus Anda persiapkan

Mengapa? Ini karena Anda akan sering melihat lantai yang kotor, mainan yang berserakan, makanan yang bercecer di mana-mana. Ini terjadi karena kemampuan kinetiknya belum sesempurna orang dewasa, dan semua yang ia lakukan akan sedikit lambat. Jadi sabar dulu karena latihan ini memakan waktu.

(Baca juga: Cara Mengajari Anak Disiplin)

•Bantu ia mandiri dengan alat-alat atau mainan yang memang khusus tersedia bagi anak seusianya

Misalnya piring, mangkuk, sendok, atau garpu dengan ukuran yang cocok dengan anak seusianya. Dengan ia bisa melakukan dengan alat-alat yang sesuai dengan usianya, ia merasa bisa memilih dan bisa melakukan banyak hal. Dan, jangan lupa pujilah ia ketika bisa melakukan satu hal saja walaupun kotor tercecer atau berserakan di mana-mana.

•Jika ia membutuhkan bantuan, Anda hendaknya jangan cepat memberikan atau cepat-cepat menyuruh orang lain

Biarkan ia melihat Anda sebagai role modelnya melakukan hal tersebut langsung membersihkannya bukan dengan menyuruh baby sitter atau pembantu. Ini menghindari ia berpikir role modeling (meniru) yang salah. Jauhkan ia dari pikiran “Oh, jadi kalau begini nyuruh orang saja?” dalam benak si kecil.

•Harus ada rule yang jelas antara Anda dengannya

Berikan pengertian padanya dalam suasana yang menyenangkan dan dengan cara yang mudah ia mengerti. Dengan begitu, ia akan dengan mudah juga mengerti.

Contohnya seperti: “Oke, adek suka ya mandi sendiri. Tapi, adek tidak boleh bermain air terlalu lama yah. Adek harus sabunan dulu baru nanti adek boleh main air. Lima menit ya main airnya, kalau kelamaan nanti adek masuk angin?” Wah, pasti si adek selain sudah pandai mandi sendiri, main airnya juga ia senang.





(TIN)