Ajarkan Anak untuk Berani Mengatakan Tidak pada Narkoba

   •    Selasa, 15 Aug 2017 12:15 WIB
narkoba
Ajarkan Anak untuk Berani Mengatakan Tidak pada Narkoba
Warga menandatangani spanduk sebagai wujud dukungan untuk aksi Keluarga Indonesia Menolak Narkoba, Pornografi, dan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak saat Car Free Day di Bundaran HI, Jakarta. (Foto: MI/Atet Dwi Pramadia)

Metrotvnews.com, Jakarta: Psikolog Anak dan Remaja Elizabeth Santosa mengatakan ada banyak alasan mengapa remaja menggunakan narkoba. Bisa karena ikut-ikutan lantaran ingin diakui kelompok tertentu, eksperimen, atau memang menyukai efek samping yang ditimbulkan.

Kadang, orang tua atau keluarga yang dekat dengan anak kehabisan cara bagaimana menjauhkan anak dari pengaruh negatif narkoba. Generasi milenial yang semakin melek dengan perkembangan zaman tentu tak bisa lagi didikte untuk menjauhi narkoba.

"Kalau anak masih SD kita larang masih bisa, tapi kalau remaja mungkin tidak efektif, enggak mempan. Perlu cara baru bagaimana mendekati remaja ini. Bagaimana mendidik mereka untuk mengatakan tidak, caranya dengan diskusi," ujar Psikolog Anak dan Remaja Elizabeth Santosa, dalam Metro Plus, Selasa 15 Agustus 2017.

Menurut Elizabeth remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju usia yang lebih dewasa. Artinya kognitif mereka mulai berkembang, berargumen, dan beranjak mampu untuk memikirkan hal-hal yang abstrak.

Dalam kondisi inilah cara orang tua untuk mengajari anak dengan mendikte sudah tak efektif. Orang tua harus mulai mengajak anak untuk berdiskusi, memberikan simulasi yang memungkinkan anak mendapatkan penjelasan berikut pro kontra suatu hal.

"Jadi yang bagus itu bukan one way, kita bikin simulasi. Karena kalau one way enggak real, dengan simulasi ini semacam role play, dan kita harus tau bagaimana anak-anak kita sekarang," kata Elizabeth.

Elizabeth mengatakan dalam diskusi itu orang tua bisa menerangkan bagaimana bersikap ketika ada teman atau orang yang berusaha menawarkan sesuatu yang tak lazim. Sebab mengatakan tidak saja tidak cukup, melainkan ada caranya.

Anak harus diajarkan untuk berani mengatakan tidak dimulai dari lingkungan keluaraga, dengan simulasi, agar ketika menghadapi situasi semacam itu mereka sudah akrab sebab sering dipraktikkan di rumah.

"Orang tua memberikan wejangan enggak boleh ini enggak boleh itu tapi kenyataannya di lapangan beda. Kadang anak bingung antara pertemanan dan mengatakan tidak, tetapi dengan sering disimulasikan akan semakin bagus. Anak akan lebih terbuka dengan pengalaman yang akan dihadapi," jelasnya.




(MEL)