Tingkat Kebahagiaan Wanita Makin Turun, Ini Penyebabnya

Sri Yanti Nainggolan    •    Sabtu, 22 Sep 2018 07:12 WIB
hari perempuan internasionalkeluargapsikologi remaja
Tingkat Kebahagiaan Wanita Makin Turun, Ini Penyebabnya
Tingkat Kebahagiaan Wanita Makin Turun, Ini Penyebabnya (Foto: shutterstock)

Jakarta: Sebuah penelitian menyebutkan bahwa tekanan ujian dan media sosial membuat para wanita muda lebih tak bahagia dibandingkan 10 tahun lalu.

Dalam satu dekade, platform media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram menjadi sangat digandrungi di mana rata-rata warga Inggris mengecek gawai mereka 28 kali sehari.

Menurut badan amal Girlguiding, media sosial telah memengaruhi kesehatan bayi melalui hal remaja perempuan dan gadis muda. Hanya seperempat dari anak perempuan dan gadis muda berusia 7-21 tahun yang merasa diri mereka bahagia.

Angka tersebut menurun dari tahun 2009 di mana 41 persen wanita mengaku merasa bahagia.

Selanjutnya, 59 persen dari 1.903 anak perempuan dan wanita muda berusia 11-21 tahun merasa media sosial sebagai penyebab utama stres pada kelompok umur mereka. Selain itu, sebanyak 69 persen dari mereka menganggap tekanan ujian sekolah adalah pemicu stres.

Penelitian yang dilakukan pada Maret-Mei tahun ini tersebut membandingkan jawaban dari beberapa pertanyaan yang pernah dilakukan pada 10 tahun yang lalu.

Penelitian tersebut menyoroti dampak yang dapat ditimbulkan stres pada kesehatan mental anak perempuan dan wanita muda, dimana perasaan tidak bahagia secara negatif mempengaruhi kesehatan mereka.

Amanda Medler, pemimpin utama di Girlguiding, mengatakan bahwa tindakan harus diambil untuk lebih memperhatikan kesehatan mental anak perempuan dan wanita muda yang secara teratur merasa tidak bahagia dan stres.

"Tidaklah cukup baik bahwa gadis-gadis saat ini tidak bahagia dan lebih banyak dari mereka mengalami masalah dengan kesehatan mental mereka daripada tahun-tahun sebelumnya.

"Jadi sekarang adalah waktu untuk bertindak, untuk mendengarkan para gadis dan merespon, dan untuk semua organisasi, pemerintah, sekolah dan orang tua untuk bekerja sama untuk meningkatkan kehidupan semua gadis dan wanita muda," ujarnya.

Izzy, anggota panel advokasi Girlguiding yang berusia 17 tahun, percaya bahwa gadis yang merasa tidak bahagia perlu diyakinkan bahwa suara mereka akan didengar dan ditanggapi dengan serius.

Menurutnya, penelitian dari 10 tahun terakhir tidak memberikan gambaran yang bagus untuk anak perempuan dan wanita muda, tetapi meyakinkan untuk melihat beberapa tanda positif.

"Gadis yang merasa lebih mampu berbicara lebih terbuka tentang kesehatan mental membuat saya optimis untuk masa depan, seperti halnya peningkatan jumlah gadis yang berbicara tentang semua masalah.

"Tapi kenyataannya hanya 60 persen perempuan yang berbicara merasa suaranya didengar dan membuat perbedaan. Hal ini menunjukkan lebih banyak kebutuhan yang harus dilakukan untuk memastikan perempuan dan wanita muda didengarkan oleh pengambil keputusan dan masalah yang mereka angkat dianggap serius, jadi mereka memiliki kepercayaan diri untuk berbicara dan tahu pandangan dan pendapat mereka penting."



 


(ELG)