Studi: Korban Perundungan Cenderung Membawa Senjata ke Sekolah

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 30 Nov 2017 11:48 WIB
Studi: Korban Perundungan Cenderung Membawa Senjata ke Sekolah
Orangtua dapat melakukan peran mereka dengan membicarakan perundungan di rumah dengan anak-anak mereka. (Foto: Scott Webb/Unsplash.com

Jakarta: Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics menyebutkan bahwa korban perundungan cenderung lebih mungkin membawa senjata ke sekolah.

Para peneliti menggunakan data dari Centers for Disease Control (CDC) yang melibatkan lebih dari 15 ribu murid dan menemukan bahwa 20 persen dari anak SMA yang disurvei merupakan target perundungan selama setahun belakangan. Para peneliti juga menemukan bahwa empat persen dari partisipan mengaku membawa senjata ke sekolah sebulan belakangan.

Data CDC terkait perundungan di sekolah menunjukkan bahwa lebih dari 200 ribu korban perundungan membawa pistol atau pisau ke sekolah dalam 30 hari terakhir.


(Data CDC terkait perundungan di sekolah menunjukkan bahwa lebih dari 200 ribu korban perundungan membawa pistol atau pisau ke sekolah dalam 30 hari terakhir. Foto: Alexis Brown/Unsplash.com)

Menurut para peneliti, alasan mereka membawa senjata bukanlah perudungan saja, namun tiga faktor lain yang secara langsung dan lebih kuat membuat para korban membawa benda-benda tersebut: keterlibatan dalam pertengkaran fisik di sekolah, bolos sekolah karena merasa tak aman, dan ancaman fisik atau cedera dari teman sekelas yang pernah diterima sebelumnya.

Jika korban perudungan menderita ketiga faktor risiko tersebut, maka prevalensi dirinya membawa senjata bisa meningkat tajam dari 5 menjadi 46 persen.

"Kami ingin melihat bagaimana anggapan mereka yang membawa senjata tentang tempat yang aman," ujar asisten peneliti Dr Andrew Adesman dari Hofstra Northwell School of Medicine.

Penelitian tersebut menganalisa, mereka yang sering mendapatkan kekerasan fisik berisiko paling besar untuk membawa senjata ke sekolah, yaitu  35 kali lipat dibandingkan murid biasa.

Selain itu, dari segi jenis kelamin, anak perempuan terlihat lebih sering mengalami perundungan. Namun anak laki-laki hampir tiga kali lipat lebih besar presentasenya untuk membawa senjata ke sekolah.

(Baca juga: Penonton dalam Perundungan Bisa Melakukan Ini)

Untuk menyelesaikan masalah ini, berbagai pendekatan dibutuhkan.

Menurut Dr Gene Beresin selaku profesor psikiatri di Harvard Medical School, sekolah masih jauh lebih aman dibandingkan jalanan, dan menggunakan detektor metal bukanlah jalan keluar terbaik.


(Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics menyebutkan bahwa korban perundungan cenderung lebih mungkin membawa senjata ke sekolah. Foto: Element5 Digital/Unsplash.com)

"Kita perlu memikirkan rencana komprehensif untuk memerangi perundungan melalui media elektronik, menginformasikan penegakan hukum dan guru tentang membangun konsekuensi universal untuk perundungan, dan membicarakan bahaya senjata di jalanan."

Beresin menambahkan bahwa orangtua dapat melakukan peran mereka dengan membicarakan perundungan di rumah dengan anak-anak mereka. Tapi dia juga mengatakan bahwa hal tersebut adalah diskusi yang harus dibawa lebih jauh ke masyarakat.

"Begitu kita bisa membuka diri tentang siapa yang melakukan perundungan, siapa korbannya, dan bagaimana perundungan dilakukan, dalam artian, itu bisa mulai mengubah budaya. Tapi butuh banyak orang untuk melakukannya," katanya.








(TIN)