Pentingnya Skrining Donor ASI

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 13 Oct 2017 18:42 WIB
air susu ibu
Pentingnya Skrining Donor ASI
Saat ini, hanya Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta yang memiliki bank penyimpanan ASI cukup baik. (Foto: Sean Roy/Unsplash.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Donor ASI merupakan salah satu pilihan jika ibu mengalami masalah dalam memberikan ASI sendiri pada anaknya. Namun, sebaiknya para ibu lebih jeli sebelum memutuskan menggunakan donor ASI.

Sebagai alternatif makanan bayi, ASI donor memang terbaik, karena umumnya bisa ditolerir oleh bayi. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, misalnya penyebaran penyakit melalui cairan dari tubuh tersebut. Meskipun tergolong susu, ASI pada dasarnya adalah produk darah yang dapat mentransfer berbagai penyakit.

"Kasus yang paling sering ditemui adalah penularan virus CMV, hepatitis B dan C, dan  HTLV (virus pemicu leukemia dan limfoma)," jelas Ketua Satgas ASI IDAI dr. Elizabeth Yohmi SpA, IBCLC dalam diskusi Aturan Main Donor ASI, Jumat (13/10/2017).

Ia melanjutkan, Badan Pencegahan dan Penularan Penyakit Amerika Serikat (CDC) tidak merekmondasikan ASI donor tanpa didahului skrining atau penapisan dimana hal tersebut tidak hanya dilakukan pada ASI, tetapi ibu yang memproduksi ASI.



Skrining tersebut terbagi menjadi beberapa bagian. Pertama, pemeriksaan secara lisan (wawancara) atau tertulis dan dilanjutkan skrining laboratorium. Tipikal pertanyaan yang diajukan meliputi apakah ibu menerima transfusi dalam 12 bulan terakhir, apakah minum alkohol, sedang minum obat hormonal, dan apakah vegetarian yang akan berdampak pada kualitas ASI.

Kemudian, ada pemeriksaan laboratorium untuk skrining hepatitis dan HIV sudah dapat dilakukan di sini dengan mudah di Indonesia, meskipun untuk pemeriksaan HTLV belum ada. Jika hasil skrining ibu terbukti sehat, ia pun belum layak menjadi donor karena masih ada tahapan lain.

(Baca juga: Penyimpangan Penggunaan Donor ASI)

ASI donor harus diperas dan disimpan dengan cara yang benar bahkan di-pasturisasi. Pedoman WHO menyatakan bahwa sebelum dikasih ke resipien ASI harus dikultur dulu (ditanam di media untuk memantau pertumbuhan kuman).

"Hasil penelitian tahun 2010 pada 1091 donor ASI ditemukan sekitar 3,3 persen hasil skrining serologi menemukan kandungan virus sifilis, hepatitis B, hepatitis C,HTLV dan HIV," tukas dr. Yohmi seraya menekankan pentingnya prosea skrining pada ASI.



Selain itu, ia membeberkan penelitian lain yang menunjukkam bahwa berdasarkan hasil skrining pada 810 ASI yang belum dipasteurisasi, ditemukan pertumbuhan berbagai bakteri.

"Selain itu, penyimpanan dan pengiriman ASI juga harus diperlakukan seperti darah, yaitu disimpan dalam kotak pendingin khusus dan petugas pengelolaannya menggunakan alat pelindung diri," tambahnya.

Saat ini, hanya Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta yang memiliki bank penyimpanan ASI cukup baik. Sementara, Bank ASI di luar negeri sudah sangat terstruktur.

Bank ASI berfungsi untuk memastikan keamanan ASI dan menjamin kandungan zat gizi dalam ASI tetap terjaga.









(TIN)