Beberapa Alasan Perceraian yang Mungkin Mengejutkan

Timi Trieska Dara    •    Minggu, 02 Sep 2018 17:30 WIB
perceraiankeluarga
Beberapa Alasan Perceraian yang Mungkin Mengejutkan
Beberapa Alasan Perceraian yang Mungkin Mengejutkan (Foto: shutterstock)

Jakarta: Perceraian adalah kejadian yang paling ditakutkan oleh pasangan. Ada banyak hal yang menyebabkan perceraian. Namun, tak jarang hal kecil jadi penyebab runtuhnya sebuah pernikahan.

Wanita yang tersinggung atas ucapan suaminya terkait berat badan dapat menyebabkan perceraian. Suami tidak berkontribusi dalam pekerjaan rumah tangga juga dapat jadi pemicu. Setidaknya itulah hasil penelitian baru berjudul "Money, Work, and Marital Stability: Assessing Change in the Gendered Determinants of Divorce" yang diterbitkan dalam American Sociological Review.

Penelitian ini mendalami teori-teori baru lainnya yang memberi kesan bahwa wanita karir yang sama-sama sukses seperti suami menjadi alasan perceraian yang meningkat selama 50 tahun terakhir.  

"Fakta bahwa tingkat perceraian meningkat selama paruh kedua abad ke-20 pada saat yang sama ketika perempuan bergerak ke dalam angkatan kerja telah mendorong beberapa spekulasi bahwa stabilitas perkawinan telah menurun karena perempuan tidak lagi 'perlu' untuk menikah demi keamanan finansial," kata penulis penelitian Alexandra Killewald, profesor sosiologi di Universitas Harvard, kepada Newswise.

"Bagi beberapa orang, ini berarti bahwa masuknya perempuan ke dalam angkatan kerja telah mengorbankan perkawinan yang stabil. Hasil saya tidak menyarankan seperti itu," tambah Killewald.

Penelitian ini membandingkan dua kelompok pasangan yakni mereka yang menikah pada tahun 1974 atau sebelumnya, dan pasangan menikah pada tahun 1975 atau sesudahnya. Hasilnya sangat menarik, setidaknya.

Pasangan menikah sebelum tahun 1975, semakin banyak pekerjaan rumah tangga yang dilakukan seorang wanita tanpa bantuan suaminya berhubungan dengan risiko perceraian yang lebih rendah. Tetapi dapat diprediksi, dinamika itu tidak bertahan untuk pasangan yang menikah baru-baru ini.

"Harapan untuk pembagian pekerjaan rumah tangga di antara pasangan tampaknya telah berubah, sehingga laki-laki diharapkan untuk memberikan kontribusi setidaknya pada pekerjaan rumah tangga," jelas Killewald.

Meskipun data menunjukkan bahwa wanita masih bertanggung jawab untuk sebagian besar pekerjaan rumah tangga, Killelwald mengatakan, "Secara umum, pria tampaknya berkontribusi sedikit lebih banyak dari biasanya, dan kontribusi ini sekarang mungkin diharapkan dan dihargai oleh para istri."

Sebagian istri berharap suami sedikit membantu pekerjaan rumah tangga dan bersama anak-anak selagi di rumah. Apalagi untuk suami istri yang bekerja. Ada rasa  kesal atau benci ketika suami tidak berkontribusi untuk dua hal itu.

"Sementara istri kontemporer tidak perlu merangkul peran ibu rumah tangga untuk tetap menikah, suami kontemporer menghadapi risiko perceraian yang lebih tinggi ketika mereka tidak memenuhi peran pencari nafkah stereotipikal, dengan bekerja penuh waktu. Pria tidak dapat mempertahankan pekerjaan penuh waktu menghadapi risiko perceraian yang tinggi," kata Killewald.

Sepertinya, kebutuhan seorang wanita untuk merasa sejajar dengan pasangan dalam sebuah pernikahan dan membangun keluarga jadi faktor penting. Bagaimana menurut pendapat Anda?


 


(ELG)