Angkie Yudistia, Tuna Rungu yang Bawa Perubahan

Sonya Michaella    •    Rabu, 16 Nov 2016 19:29 WIB
kesehatan
Angkie Yudistia, Tuna Rungu yang Bawa Perubahan
Lewat pusat pemberdayaan miliknya, Thisable Enterprise, Angkie menyediakan wadah pemberdayaan ekonomi untuk disabilitas Indonesia untuk menghasilkan karya secara masif untuk menunjang ekonomi. (Foto: Metrotvnews.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Penyandang disabilitas dan tuna rungu terkadang masih dianggap sebagai sebuah aib. Namun, Angkie Yudistia, seorang penyandang tuna rungu, mencoba untuk mengubah pandangan tersebut.

Angkie, yang dinyatakan tuna rungu sejak umur 10 tahun, merasa bahwa sekarang pandangan masyarakat normal terhadap penyandang disabilitas dan tuna rungu sudah semakin baik.

"Sekarang sudah better, daripada dulu, sekitar lima atau enam tahun lalu. Kami dianggap sebagai sebuah aib dan tidak bisa apa-apa," ujar Angkie kepada Metrotvnews.com, di Jakarta, Rabu (16/11/2016).

Angkie pun berhasil meluncurkan sebuah buku yang ditulisnya sendiri, yang berjudul 'Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas'. Lewat buku ini, Angkie mencoba menjadi sebuah jembatan antara penyandang disabilitas dan tuna rungu dengan orang-orang normal.

"Di sini, aku mencoba menjadi sebuah jembatan. Orang-orang seperti aku ini banyak sekali bakatnya. Kami juga bisa bekerja sama dengan orang normal," ucap Angkie.

Menjadi salah satu peserta pertukaran penyandang disabilitas dan tuna rungu ke Amerika Serikat, Angkie mengaku, fasilitas di Amerika sangat memadai untuk para penyandang disabilitas.

"Memang, di sana sangat memadai. Namun, beberapa negara bagian di sana juga masih ada kok yang masih berjuang dan berusaha seperti Indonesia," lanjutnya lagi.

Kepada pemerintah Indonesia, harapan Angkie dan sederet penyandang disabilitas lainnya sangat besar. Namun, ia menyadari bahwa ini bukan sepenuhnya tanggung jawab pemerintah.

"Permasalahan pemerintah juga sudah cukup banyak, ya. Jadi, menurut saya, ayolah berusaha bangkit dari diri sendiri juga. Kita berjalan beriringan dengan pemerintah juga," tutur Angkie.

Lewat pusat pemberdayaan miliknya, Thisable Enterprise, Angkie menyediakan wadah pemberdayaan ekonomi untuk disabilitas Indonesia untuk menghasilkan karya secara masif untuk menunjang ekonomi.

"Organisasi milik aku ini sebagai tempat untuk kerja sama antara semua stakeholders dan juga pemerintah Indonesia. Disabilitas dan tuna rungu itu bukan aib kok," jelasnya lagi sambil tersenyum.


Demam tinggi sebabkan Angkie jadi tuna rungu 

Angkie lahir sama seperti bayi normal lainnya. Namun, di usianya yang menginjak 10 tahun, Angkie terserang penyakit malaria disertai demam tinggi.

Akibat efek samping antibiotik, Angkie dinyatakan tidak bisa mendengar pada usia yang masih dini. Hebatnya, perempuan yang lahir di Medan, 5 Juni 1987 ini tak pasrah dengan keadaan. Meski berat, Angkie mampu menyelesaikan pendidikannya hingga kuliah.

(Baca juga: 5 Fakta tentang Otak Bayi)

"Aku bersyukur, orangtuaku tidak malu mempunyai anak yang tiba-tiba tuna rungu, padahal mulanya normal. Orangtuaku tetap menyuruh aku untuk bersekolah seperti anak normal lainnya," ungkap Angkie.

Kini, Angkie sangat fasih untuk berbicara, meski masih cukup terbata-bata. Angkie mengaku, dirinya terus berlatih berbicara sembari juga dilakukan terapi.

"Kita ini (tuna rungu) tidak bisa mendengar. Bagaimana bisa kita berkomunikasi dengan orang normal? Jadi, aku terus berlatih berbicara walaupun susah," tuturnya.

Angkie juga mengaku, jika berkumpul dengan tuna rungu lainnya, ia tetap menggunakan bahasa isyarat. Angkie pun sempat menceritakan susahnya mempelajari bahasa normal dan juga bahasa isyarat. Sebab, semakin dewasa, kosa kata bahasa semakin banyak dan sulit.

"Tapi, kalau aku sama orang-orang normal, aku berusaha pakai bahasa. Aku juga ngerti gerakan mulut orang," pungkasnya.






(TIN)