Kurang Tidur Picu Pertengkaran dengan Pasangan Semakin Parah

Sri Yanti Nainggolan    •    Sabtu, 01 Jul 2017 11:50 WIB
keluarga
Kurang Tidur Picu Pertengkaran dengan Pasangan Semakin Parah
Ilustrasi (Foto: The Odyssey Online)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah penelitian dari Ohio State University Institute for Behavioural Medicine menemukan bahwa kurang tidur meningkatkan  stres yang dapat memengaruhi pasangan Anda. 

"Kami tahu bahwa masalah tidur berhubungan dengan peradangan dan berbagai penyakit kronik. Kami tertarik melihat bagaimana hal tersebut juga berpengaruh pasangan yang telah menikah, atau peradangan pada satu orang memengaruhi pasangannya," ujar pemimpin studi Stephanie Wilson, seperti dilansir dari The Health Site.

Para peneliti merekrut 43 pasangan yang mengikuti dua studi. Para partisipan memberikan sampel darah dan menyebutkan berapa jam mereka tidur dua malam sebelumnya. Kemudian, para para peneliti meminta mereka untuk menyelesaikan sebuah topik yang membuat mereka bertengkar. Sampel darah diambil sesudah diskusi dilakukan. 

"Kami menemukan bahwa mereka yang kurang tidur selama beberapa hari tidak mengalami peradangan yang lebih tinggi, namun mereka memiliki respon inflamasi yang lebih besar pada konflik. Artinya, kurang tidur meningkatkan kerentanan pada stres," simpulnya. 

Jika kedua pasangan tersebut tidur kurang dari tujuh jam dalam dua malam sebelumnya, mereka cenderung semakin bermusuhan atau saling beradu argumen. 

Untuk setiap jam tidur yang berkurang, tingkat penanda inflamasi naik sebesar enam persen. Pasangan yang menggunakan taktik tak sehat dalam pertengkaran mengalami respon yang semakin tinggi, yaitu 10 persen. 

"Peningkatan jelas bukan hal yang baik, jika berlarut-larut dan tidak diatasi maka akan menjadi masalah," tukas Wilson. 

Ia menambahkan, separuh dari pasangan studi tidur kurang dari tujuh jam di malam hari. 

"Masalah hubungan dan kurang tidur umumnya terjadi bersamaan. Jika salah satu kurang istirahat atau memiliki masalah kronik, maka bisa berdampak pada pasangannya," ujar peneliti senior Janice Kiecolt-Glaser. 

Hasil studi itu dimual dalam jurnal Psychoneuroendocrinology.

(ASA)