Kebanyakan Pelaku KDRT adalah Pria tak Sepenuhnya Benar

   •    Jumat, 20 Oct 2017 10:27 WIB
kekerasan dalam rumah tangga
Kebanyakan Pelaku KDRT adalah Pria tak Sepenuhnya Benar
Ilustrasi. (Thinkstock)

Metrotvnews.com, Jakarta: Psikolog Forensik Reza Indragiri menyebut dalam banyak situasi masyarakat sering memberikan stereotip bahwa kebanyakan pelaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalaah laki-laki. Namun anggapan tersebut tak sepenuhnya benar.

Menurut Reza pada saat mengidentikkan laki-laki kerap melakukan KDRT seharusnya masyarakat 'mundur' satu atau dua langkah untuk mencari tahu apa yang menyebabkan laki-laki melakukan tindakan keji.

"Mari kita bayangkan, tidak mungkin juga ada laki-laki misalnya suami saat bangun tidur tidak angin tidak ada hujan langsung membanjiri istrinya dengan aksi 'membabi buta', kecuali dia sedang berada di bawah pengaruh narkoba," kata Reza, dalam News Story Insight (NSI), Kamis 20 Oktober 2017.

Reza mencontohkan kasus tewasnya pegawai BNN yang ditembak oleh suaminya sendiri. Korban oleh keluarga pihak laki-laki disebut sering melakukan kekerasan terhadap pelaku. Korban bernama Indria Kameswari diduga terlalu banyak menuntut dan melakukan kekerasan hingga menyulut emosi pelaku.

Dari kasus tersebut, kata Reza, bisa jadi pelaku merasa teraniaya akibat sikap korban yang terkadang tak mengenakkan. akibatnya, korban tersulut emosi dan melakukan tindakan keji. Dalam hal ini siapa yang menjadi korban? bisa keduanya.

Hanya saja dalam khazanah psikologi forensik bahkan dari berbagai persidangan KDRT di seluruh dunia termasuk Indonesia, anggapan bahwa laki-laki juga bisa teraniaya sering dikesampingkan.

Padahal menurut Reza jika merunut data, memang benar laki-laki adalah pelaku terbanyak dalam kasus KDRT tetapi rasio atau perbandingannya tak begitu jauh dengan yang dilakukan perempuan.

"Ini menunjukkan kita juga harus membuka kemungkinan bahwa dalam suatu kejahatan KDRT pelaku bisa dari keduanya. Dalam kasus penembakan pegawai BNN sesungguhnya bukan hanya perempuan yang berstatus korban bisa jadi laki-laki juga korban; kekerasan fisik vs kekerasan psikis," jelasnya.




(MEL)