Mengenal Generasi Milenial dan 'Kids Zaman Now'

   •    Senin, 04 Dec 2017 12:33 WIB
psikologi anakgenerasi milenial
Mengenal Generasi Milenial dan Kids Zaman Now
Ilustrasi. (Thinkstock)

Jakarta: Sering kali orang menganggap bahwa generasi milenial dan generasi Z atau yang populer disebut 'kids zaman now' adalah sama. Padahal generasi milenial dan mereka yang disebut 'kids zaman now' memiliki perbedaan baik dari tahun kelahiran maupun karakteristiknya.

"'Kids zaman now' itu untuk generasi Z atau generasi yang lahir antara 1995-2013, kalau milenial dimulai dari kelahiran 1982-1994. Hanya terkadang sering tertukar mana generasi milenial, mana generasi Z," kata Psikolog Anak Saskhya Prima, dalam Metro Plus, Senin 4 Desember 2017.

Prima mengatakan ada perbedaan karakteristik antara generasi milenial dan 'kids zaman now'. Meskipun pada generasi milenial sudah memasuki era teknologi namun perkembangannya tidak secanggih saat ini.

Sementara yang paling menonjol dari generasi Z adalah mereka sudah tidak ingat bahwa dulu, sesuatu yang bernama teknologi itu tidak ada.

"Kalau sekarang anak lahir sudah bisa main gadget, layar sentuh, dan lain-lain," kata Prima.

Sayangnya, dalam banyak pemberitaan di media massa generasi Z disebut 'membahayakan' sebab dinilai terlalu ekspresif dan mudah mengungkapkan opininya melalui beragam media, khususnya di media sosial. Padahal generasi Z diprediksi merupakan generasi paling bagus untuk hidup di zaman sekarang lantaran kemampuan multitasking-nya.

Prima mengatakan kelemahan generasi Z hanya satu, fokus perhatian mereka semakin lama semakin pendek karena topic of interest yang banyak serta keinginan yang serba cepat. Tidak seperti generasi milenial dinilai yang hanya fokus pada satu hal untuk benar-benar ditekuni dan sabar melakukan setiap perkembangannya.

"Jadi di satu sisi mereka cenderung terburu-buru tapi di sisi lain sangat cepat beradaptasi dengan lingkungan," katanya.

Tak hanya bagi generasi Z, orang tua 'kids zaman now' juga dituntut untuk belajar mengikuti segala macam perkembangan yang terjadi pada anak-anak generasi Z.

Meski generasi ke generasi terus berubah, pola asuh orang tua terhadap anak tidak berubah. Agar anak-anak generasi Z tidak terjerumus pada hal-hal yang salah, hubungan antara orang tua dan anak harus tetap seimbang meski zaman sudah berbeda.

"Karena kalau komunikasi lancar anak akan banyak cerita, percaya kepada kita. Disitu orang tua bisa membatasi kapan anak boleh rekam video misalnya, kapan boleh membagikannya ke teman, dan kapan harus menyimpannya sendiri," ujar Prima.

Prima menambahkan, sesibuk apapun orang tua minimal luangkan waktu selama 15-20 menit untuk berinteraksi secara langsung dengan anak. Meski kuantitas bersama anak dinilai kurang, kualitas waktu yang tersisa harus bisa membangun kedekatan antara orang tua dan anak.




(MEL)