Delapan Kendala dalam Aplikasi Pesan Kearifan Lokal Keluarga Masa Kini

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 24 Nov 2017 16:45 WIB
Delapan Kendala dalam Aplikasi Pesan Kearifan Lokal Keluarga Masa Kini
Berbicara soal sopan santun, Prof. Paulus mengakui bahwa standar sopan santun untuk generasi muda saat ini sudah berbeda dimana tak sedikit yang mengeluhkannya. (Foto: Robert Collins/Unsplash.com)

Jakarta: Keluarga adalah elemen terpenting bagi seorang individu dimana berbagai nilai kehidupan ditanamkan pertama kali dari kelompok tersebut. Namun, sayangnya tak semua nilai-nilai positif tersebut terlaksana sesuai dengan ekspektasi. 

"Keluarga memberikan pesan-pesan positif dari orangtua ke cucu, ini disebut nilai ideal. Sementara, ada juga nilai-nilai lain yang masuk, yang tak sejalan dengan nilai ideal, yaitu nilai aktual yang berseberangan," terang sosiolog dari Universitas Indonesia Prof. Dr. Paulus Wirutomo, M.Sc dalam acara Puncak Kampanye Frisian Flag Indonesia: 95  Pesan untuk Masa Depan, Jumat 24 November 2017. 

Ia menerangkan, terdapat delapan nilai umum yang diajarkan dalam keluarga: kebersamaan, keterbukaan kejujuran, cinta kasih, kemandirian, toleransi, kepercayaan, sopan santun, dan keharmonisan. Semua nilai tersebut memiliki nilai aktual. 


(Keluarga adalah elemen terpenting bagi seorang individu dimana berbagai nilai kehidupan ditanamkan pertama kali dari kelompok tersebut. Foto: Alberto Casetta/Unsplash.com)

Misalnya, pada poin kebersamaan, kendala terbesar dari aplikasi nilai tersebut adalah adanya anggota keluarga yang lebih senang menghabiskan waktu di luar. Sementara, terkait keterbukaan dan kejujuran, beberapa orang justru lebih nyaman bercerita kepada orang di luar keluarga sendiri, seperti sahabat. 

"Untuk cinta kasih, kita lihat sekarang angka perceraian cenderung meningkat. Ini artinya, cinta kasih tak semudah itu dipertahankan," tambahnya. 

(Baca juga: Keluarga yang Habiskan Waktu Bersama di Rumah Terbukti Lebih Bahagia)

Kemandirian, yang merupakan bekal untuk hidup sang anak, justru terhalangi oleh orangtua. Dengan dalih kasih sayang, orangtua selalu mencoba melindungi anak dengan segala cara sehingga anak menjadi tak bisa mengembangkan keberanian. 

Toleransi dalam perbedaan pendapat juga masih belum bisa teraplikasi dengan baik. Hal ini terlihat dari orangtua yang masih menyetir hal-hal yang berhubungan dengan anak seperti pilihan sekolah, pekerjaan, hingga jodoh. 


(Terdapat delapan nilai umum yang diajarkan dalam keluarga. Brooke Cagle/Unsplash.com)

Nilai kepercayaan juga terlihat semakin menipis dimana tak sedikit individu yang memilih berbohong dengan anggota keluarga untuk menghindari pertikaian. 

Berbicara soal sopan santun, Prof. Paulus mengakui bahwa standar sopan santun untuk generasi muda saat ini sudah berbeda dimana tak sedikit yang mengeluhkannya. "Bukannya sudah tak sopan, namun cara yang mereka gunakan lain."

Nilai keharmonisan sendiri merupakan gabungan dari tujuh nilai yang sudah disebutkan. Jika terjadi gangguan dalam satu nilai, maka nilai-nilai lain pun akan merasakan dampak negatif. 







(TIN)