Ini Alasan Mengapa Orang Dewasa Sulit Belajar Bahasa Asing

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 11 May 2018 14:49 WIB
pendidikan
Ini Alasan Mengapa Orang Dewasa Sulit Belajar Bahasa Asing
Sebuah studi yang dipublikasi dalam jurnal Cognition menemukan bahwa agak mustahil untuk bisa lancar berbahasa jika mulai memelajari bahasa tersebut saat berusia di atas 10 tahun. (Foto: Alexis Brown/Unsplash.com)

Jakarta: Seiring bertambahnya usia, kemampuan belajar pun semakin menurun. Hal tersebut juga berlaku untuk kemampuan berbahasa, dimana masa anak-anak adalah masa terbaik untuk belajar bahasa lain. 

Sebuah studi yang dipublikasi dalam jurnal Cognition menemukan bahwa agak mustahil untuk bisa lancar berbahasa jika mulai memelajari bahasa tersebut saat berusia di atas 10 tahun. 

"Setelah usia itu, Anda masih bisa belajar dengan cepat. Hanya saja, kemampuan belajar mulai turun saat menginjak usia 17 atau 18 tahun," ujar peneliti Joshua Hartshorne dari Boston College. 

Menurutnya, orang yang memulai belajar bahasa beberapa tahun setelah usia 10 tahun masih bisa menjadi cukup mahir, tetapi tidak mencapai kefasihan total. Di satu sisi, mengapa penurunan kemampuan belajar terjadi di ambang kedewasaan masih belum jelas.

Beberapa ilmuwan percaya bahwa kemampuan perkembangan otak berhenti segera setelah lahir, sementara yang lain meyakini hanya sampai awal masa remaja. Jika dibandingkan dengan perkiraan itu, usia 17 atau 18 tahun tampaknya relatif sudah tua.

Penelitian tersebut menggunakan metode unik dimana para peneliti menciptakan kuis tata bahasa yang ramah pengguna, yang dimaksudkan untuk menjadi viral (mudah dilakukan melalui internet).


(Seiring bertambahnya usia, kemampuan belajar pun semakin menurun. Hal tersebut juga berlaku untuk kemampuan berbahasa, dimana masa anak-anak adalah masa terbaik untuk belajar bahasa lain. Foto: Alexis Brown/Unsplash.com)

(Baca juga: Tips Sukses Donna dan Darius Mengajari Anak Berbahasa Inggris)

Kuis 10 menit, yang disebut “Which English?” dibuat agar orang terpikat dengan menebak bahasa ibu, dialek dan negara asal mereka berdasarkan tanggapan mereka terhadap pertanyaan tata bahasa Inggris. Di akhir kuis, orang-orang ditanya tentang bahasa asli mereka yang sebenarnya, jika dan kapan mereka mulai mempelajari bahasa lain dan di mana mereka tinggal.

Selain wawasan tentang periode kritis tersebut, Hartshorne mengatakan hasil kuis dengan jelas menunjukkan bahwa siswa bernasib lebih baik ketika mereka belajar bahasa baru dengan metode penggabungan (dikenal dengan sebutan Language immersion method) dan bukan hanya terbatas di kelas (secara formal).

Meskipun dia mengakui itu lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. "Akan lebih baik pindah ke negara sebagai orang dewasa dan mencoba belajar bahasa daripada hanya memelajarinya di sekolah."

Hartshorne juga menyarankan untuk melakukan percakapan yang sebenarnya dengan penutur asli, daripada hanya memelajarinya lewat buku. 

"Jika Anda dapat melakukannya, sangat mungkin untuk menjadi mahir dalam percakapan, meskipun tidak sepenuhnya lancar, bahkan sebagai orang dewasa," katanya.





(TIN)