Candu Digital Mendorong Orang Jadi Humblebrag

   •    Selasa, 29 Aug 2017 09:24 WIB
media sosialpsikologi
Candu Digital Mendorong Orang Jadi Humblebrag
Ilustrasi. (Thinkstock)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kasus penipuan biro perjalanan umrah First Travel menyedot perhatian banyak pihak. Bukan cuma soal uang yang diduga digelapkan namun juga gaya hidup mewah bos First Travel Andika Surahman dan Anniesa Hasibuan.

Kehidupan mewah keduanya kerap ditunjukan dalam foto-foto yang diunggah ke media sosial. Banyak pihak menduga gaya hidup yang dijalani keduanya berasal dari duit para calon jemaah umrah yang batal diberangkatkan.

Kasus Andika dan Anniesa hanya sebuah contoh, dimana seseorang selalu ingin menampakkan diri ke publik dengan apa yang dimiliki. Tujuannya, mendapatkan apresiasi dan pengakuan melalui banyaknya likes. Perilaku semacam itu bisa disebut sebagai humblebrag atau pamer terselubung. 

Pengamat Sosial Devie Rahmawati mengatakan keberadaan media sosial yang bisa menjangkau seluruh dunia dimanfaatkan keduanya untuk menunjukkan marketing diri yang kemudian menjurus pada perilaku candu digital.

"Orang candu akan pujian melalui banyaknya 'jempol'. Setiap hari selalu ingin mendapatkan suntikan jempol yang kemudian mereka lakukan tadi untuk memamerkan diri," ungkapnya, dalam Newsline, Senin 28 Agustus 2017.

Menurut Devie perilaku pamer bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama yang sifatnya ofensif atau terbuka dan kedua terselubung atau bergerilya.

Teknik ofensif umumnya dilakukan dengan menampakkan harta, misalnya pamer barang pribadi yang bernilai mahal atau berpose layaknya orang berada. 

"Sedangkan pamer terselubung itu misalnya berkata, 'Saya lelah, kebetulan malam ini harus ke Singapura padahal sekarang masih di Tokyo.' Ini untuk menunjukkan bahwa dia orang hebat, orang penting," kata Devie.

Sayangnya, kata Devie, perilaku semacam itu justru tidak membuat orang lain takjub atau jatuh cinta melainkan sebaliknya. Studi yang dilakukan Harvard pada 2015 menyebut perilaku itu justru memupuk rasa benci orang, sebab antara satu dengan yang lain tidak bertemu langsung secara fisik.

"Ada jurang empati. Jadi kita selalu berpersepsi, orang yang rendah hati akan lebih mudah membeli perasaan orang lain. Sebaliknya, orang akan semakin merasa iritasi karena orang ini tidak tulus," ungkap Devie.

Devie menyebut sudah menjadi barang mutlak bahwa manusia mencari orang lain yang lebih tulus. Memang, selalu ada yang layak untuk dipentaskan di panggung media sosial. Persoalannya, dosisnya harus disesuaikan.

Menurut Devie paling tidak ada tiga catatan penting yang membuat orang terkena 'sindrom' humblebrag. Pertama, dia tidak percaya dengan dirinya sendiri sehingga dengan memposting sesuatu akan membuatnya diakui oleh banyak orang.

"Biasanya ada empat yang diposting. Kepintaran, kekayaan, kecantikan, dan kekuatan jaringan misalnya foto dengan artis atau pejabat. Keempat ini akan selalu berulang di media sosial," kata Devie.

Ketika kemudian merasa bahwa seseorang tidak memiliki salah satu dari keempatnya, mereka akan mencari jalan lain baik secara terbuka maupun bergerilya memamerkan apa yang kira-kira dari empat ini yang bisa lebih ditonjolkan.

Hal kedua, kata Devie, orang sering kali lupa bahwa media sosial adalah milik bersama. Ketika hanya melihat layar kecil, orang berpikir bahwa dia hanya bicara atau berinteraksi dengan kelompoknya saja padahal faktanya dia terhubung dengan banyak orang.

"Ini yang kita sering lupa kadang mereka juga memposting itu ke tempat lain. Ketika kita merasa sudah pintar, kaya, dan lain-lain, ternyata dalam studinya setiap orang itu selalu ada keraguan. Mereka cenderung merasa tidak nyaman dan mencari dukungan," katanya.

Terakhir, pengguna media sosial memiliki ideologi eksis. Mereka eksis kalau ada di media sosial. Hal inilah yang menghantui semua orang di era modern, harga tawar tertinggi agar disebut modern adalah eksis.

Uniknya, di Indonesia memiliki budaya harmoni dimana cara untuk menunjukkan kesombongan disamarkan agar tak terlalu kentara. Dalam konteks tertentu, pamer tidak jadi masalah namun akan jadi persoalan ketika frekuensinya sudah berlebihan. 

Hal seperti ini umumnya dilakukan seseorang dengan cara, ketika melihat orang lain memamerkan sesuatu dia akan menarik diri agar dianggap rendah hati. Padahal perilaku tersebut bisa dikatakan sama, hanya caranya saja yang berbeda.

"Ada orang yang ketika bicara tas baru, barang baru, dia menarik diri dan merasa tidak perlu seperti itu (memamerkan diri). Tapi ketika itu dilakukan terus menerus dengan cara yang sama, sama saja, beda tipis dengan memamerkan diri secara terbuka," jelasnya.




(MEL)