Pentingnya Komunikasi dalam Menangkal Masuknya Radikalisme pada Anak

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 01 Jun 2018 08:24 WIB
keluarga
Pentingnya Komunikasi dalam Menangkal Masuknya Radikalisme pada Anak
Orang tua sebaiknya menjalin komunikasi yang baik dengan anak sehingga bisa mengetahui dan memahami sejauh mana pola pikir sang buah hati. (Foto: Sebastián León Prado/Unsplash.com)

Jakarta: Saat ini, Indonesia tengah gencar memberantas radikalisme yang muncul secara bergerilya. Sebagai orang tua, penting untuk melindungi anak dari paham tersebut dengan cara menjalin komunikasi yang baik.

Menurut psikolog anak Feka Angge Pramita M.Psi, pendekatan paham radikal sendiri kini tak lagi satu tipikal. 

"Orang berpikir kalau paham tersebut biasanya pada anak yang pendiam, tapi sekarang juga ada yang membaur," tukasnya dalam temu media Frisian Flag, Kamis 31 Mei 2018. 

Oleh karena itu, orang tua sebaiknya menjalin komunikasi yang baik dengan anak sehingga bisa mengetahui dan memahami sejauh mana pola pikir sang buah hati. 


(Orang tua sebaiknya menjalin komunikasi yang baik dengan anak sehingga bisa mengetahui dan memahami sejauh mana pola pikir sang buah hati. Foto: Eye for Ebony/Unsplash.com)

"Kita seperti profiling Anak, tahu apa sifat positif dan negatif mereka. Tak hanya mengamati, tapi juga berinteraksi dengan mereka."

Dengan interaksi tersebut, orang tua diharap bisa membaca bagaimana perkembangan anak dan segera melakukan intervensi ketika mencium radikalisme dalam diri anak, melalui perkataan dan kegiatannya.

(Baca juga: Menelaah Peran Orang Tua dalam Pengembangan Karakter Anak)

Lalu, apa yang harus dilakukan jika anak sudah dimasuki radikalisme?

Feka mengakui bahwa, seiring bertambahnya usia anak, orang tua akan mendapatkan sanggahan dalam berdiskusi dengan anak terkait apa yang mereka ketahui.

"Ketika sudah kuliah, misalnya, anak sudah lebih bisa berargumen dengan pengetahuan yang didapatnya, tetapi orang tua biasanya akan tetap didengarkan, terutama bila diberitahu berulang kali."


(Seiring bertambahnya usia anak, orang tua akan mendapatkan sanggahan dalam berdiskusi dengan anak terkait apa yang mereka ketahui. Foto: Andre Hunter/Unsplash.com)

Selain itu, Feka juga menyarankan agar anak menemui psikolog sebagai bantuan eksternal. Diharapkan beberapa pertemuan dapat mengembalikan pola pikir anak kembali ke jalan yang benar. 

Dalam berdiskusi maupun konseling, Feka menegaskan bahwa orang tua perlu mencari tahu apa yang menjadi dasar anak terjerumus dalam radikalisme. Ini artinya, diperlukan penanganan yang berkesinambungan dalam memberantas paham tersebut.

"Jika penyebabnya karena kesepian atau tak mendapat perhatian, perlu ada sesi khusus untuk menanganinya," tambahnya.

Selain itu, lingkungan sekitar anak juga perlu diperhatikan di mana sebaiknya ia ditempatkan pada atmosfer positif agar tidak terpapar paham negatif tersebut. 





(TIN)