Studi: Anak Cenderung Menghindari Kontak Mata Saat Ketakutan

Sri Yanti Nainggolan    •    Senin, 21 Aug 2017 08:00 WIB
perkembangan anak
Studi: Anak Cenderung Menghindari Kontak Mata Saat Ketakutan
Menurut penelitian tersebut, semakin jarang dan sebentar mereka melihat ke mata orang lain, semakin besar rasa takut mereka terhadap lawan bicara meskipun tak memiliki alasan ketakutan. (Foto: Vanessa Sarpas/Unsplash.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah studi menunjukkan bahwa anak-anak berusia 9-13 tahun akan memperhatikan informasi yang berpotensi mengancam dan menghindari kontak mata saat cemas. 

Menurut penelitian tersebut, semakin jarang dan sebentar mereka melihat ke mata orang lain, semakin besar rasa takut mereka terhadap lawan bicara meskipun tak memiliki alasan ketakutan. 



Penelitian tersebut juga menemukan bahwa anak yang terus merasa ketakutan pada lawan bicaranya, meskipun tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. 

"Melihat ke mata seseorang membuat orang mengerti apakah lawan bicara sedang sedih, marah, takut, atau terkejut," tukas peneliti Kalina Michalska dari University of California, Riverside. 

Namun, pola penglihatan pada anak berbeda. Oleh karena itu, mencoba mengerti pola tersebut dapat membantu mempelajari perkembangan dan pelajaran sosial si kecil.

(Baca juga: 6 Tahap Tumbuh Kembang Anak yang Harus Diketahui Orangtua)

Penelitian tersebut menunjukkan 82 anak-anak berusia 9-13 tahun diperlihatkan gambar dua wanita pada layar komputer yang dilengkapi dengan alat pelacak mata dimana bisa mengetahui pada bagian mana dan berapa lama anak-anak melihat ke gambar tersebut. 

Para partisipan diperlihatkan gambar tersebut sebanyak empat kali. Selanjutnya, salah satu gambar diberikan efek jeritan keras dan ekspresi takut, sementara yang lainnya tidak.

Kemudian, para partisipan melihat kedua wajah tersebut tanpa mengeluarkan suara atau teriakan. 



Mereka melihat apakah anak tetap akan melakukan kontak mata di saat ekspresi wajah masih datar pada hal-hal yang membuat mereka takut atau terancam. 

Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak yang cemas cenderung menghindari kontak mata, sehingga rasa takut lebih besar. Sementara, menghindari kontak mata terbukti mengurangi kecemasan dalam jangka pendek.









(TIN)