Anak Terpapar Gadget dari Kebiasaan Lingkungan dan Orang Terdekat

Farhan Dwitama    •    Senin, 05 Nov 2018 10:00 WIB
keluarga
Anak Terpapar Gadget dari Kebiasaan Lingkungan dan Orang Terdekat
Orang tua dan lingkungan, juga harus mengatur konten dari gawai yang dikuasai oleh anak-anak. (Foto: Le Buzz/Unsplash.com)

Tangerang: Bayi dan balita sebaiknya tak terpapar gadget, setelah berusia 12 tahun anak boleh dikenalkan gadget dengan waktu terbatas.

Psikolog dari Grow Psychological Service, Yukie Agustia Kusmala memaparkan dampak buruk penggunaan gawai pada anak dan balita, diawali dari kebiasaan orang dekat pada lingkungan anak. 

“Bisa orang tua sang anak, pengasuh, kakak atau kakek-neneknya. Itu dipicu kebiasaan yang ditiru anak dari lingkungannya,” kata Yukie, Sabtu 27 Oktober 2018 silam dalam parent talk dengan tema menyiasati era digital pada anak di Kingland Avenue, BSD Tangerang Selatan. 

Menurutnya, gadget tak hanya menimbulkan radiasi elektronik yang memapar anak. Tapi ada dampak sosial dan psikologis yang juga menghantui kebiasaan anak selanjutnya. 

“Usia yang dibolehkan itu 12 tahun. 0 sampai 2 tahun tak boleh terpapar gadget, kalaupun terpaksa, anak usia 3 sampai 6 tahun itu dibatasi satu jam per hari, 7 sampai 18 tahun itu dua jam per hari, memang bisa lebih untuk usia 18 tahun karena kebutuhan tugas sekolah, atau kebutuhan pekerjaan. Tapi harusnya rehat dulu agar matanya tetap terjaga,” kata dia. 


(Menurut psikolog dari Grow Psychological Service, Yukie Agustia Kusmala, gadget tak hanya menimbulkan radiasi elektronik yang memapar anak. Tapi ada dampak sosial dan psikologis yang juga menghantui kebiasaan anak selanjutnya. Foto: Benjamin Sow/Unsplash.com)

(Baca juga: Hadirnya Gadget di Kamar Pangkas Waktu Tidur Anak)

Orang tua dan lingkungan, juga harus mengatur konten dari gawai yang dikuasai oleh anak-anak. 

“Atur juga kontennya, berikan konten yang merangsang pengetahuan dan perhatikan durasi bermain gadgetnya. Kenapa dibatasi karena anak perlu berkegiatan di luar, karena anak menggunakan gadget itu hanya untuk game dan menonton saja, dia tidak kenal chatting, tidak tahu sosial media,” terang dia.

Maka keteladan dari orang tua dan lingkungan dalam penggunaan gadget menjadi kunci, agar anak mau diatur dalam memanfaatkan gadget yang dia gunakan.

“Saat dengan anak harus melepaskan gadget, kita harus ada manajemen waktu. Banyak orang tua sebenarnya bukan bermain gadget, tapi sedang bekerja, sedang jualan online."

"
Tapi yang mereka (anak-anak) lihat adalah kita terus terusan memegang gadget. Padahal kita kerja, atau untuk bisnis online. Tapi anak tahunya kita pegang gadget terus maka perlu manajemen waktu untuk itu,” katanya. 





(TIN)