Psikolog: Tik Tok Punya Efek Positif untuk Remaja

Raka Lestari    •    Kamis, 05 Jul 2018 16:04 WIB
topik khusus rona
Psikolog: Tik Tok Punya Efek Positif untuk Remaja
Ilustrasi: The Star Online

Jakarta: Aplikasi untuk menyanyi lip-sync Tik Tok resmi diblokir Kementerian Komunikasi dan Informatika pada Selasa, 3 Juli 2018. Tik Tok dianggap mengandung banyak konten negatif, khususnya untuk anak-anak. 

Namun, tepatkah langkah memblokir aplikasi tersebut? bagaimana Tik Tok jika ditinjau dari aspek psikologis?

Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi mengungkapkan. Tik Tok sebenarnya bisa menjadi aplikasi yang bagus untuk menumbuhkan kreativitas anak. Misalnya mengembangkan koreografi tarian sesuai lagu yang dipilih. 

(Bowo Alpenliebe dan 5 Sosok Mendadak Seleb Lainnya)

Sayangnya, banyak orang yang merasa terganggu dengan adanya aplikasi ini, salah satunya setelah kemunculan remaja bernama Bowo Alpenliebe yang disebut-sebut sebagai artis Tik Tok. 

"Masa remaja memang menjadi salah satu tahapan unik dalam perkembangan psikologis manusia. Pada tahap ini, aspek kognitif, kreativitas, dan imajinasi sedang berkembang pesat yang ditandai dengan mulai berkembangnya kemampuan berpikir abstrak," jelas dosen psikologi di Universitas Kristen Maranatha, Bandung ini.

Fase remaja disebut juga fase komunal yang mana berada di lingkaran teman-teman sebaya menjadi hal yang sangat penting. Tak jarang, pengakuan dari teman sebaya juga menjadi penyemangat. 

"Salah satu ciri sifat remaja adalah moody yang merupakan efek perkembangan hormon yang sedang pesat," tambah Efnie. 

Menurut Efnie, itulah sebabnya remaja menyukai tiktok karena kontennya yang menarik sehingga bisa membuat suasana hati remaja menjadi baik.

"Aplikasi Tik Tok ini memfasilitasi ciri-ciri perkembangan remaja, dimana mereka bisa bebas berkreasi, berimajinasi, mengekspresikan diri, juga termasuk memperluas jejaring pertemanan," kata Efnie. 

Efnie kembali menegaskan, Tik Tok sebenarnya positif jika digunakan sebagai ajang untuk berkreasi, berimajinasi, atau memperluas jaringan pertemanan. 

Namun, Efnie juga menyarankan adanya pengawasan dari pihak orang tua terkait konten yang dilihat dan waktu penggunaan yang sebaiknya tidak lebih dari 1,5 jam. 

"Batasi juga penggunaannya jangan sampai menjadi adiksi dan lupa pada tugas sekolah dan kehidupan bersosial," pungkas Efnie. 

Lihat video:




(DEV)