Penyebab di Pedesaan Rentan Terjadi Perkawinan Anak

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 28 Sep 2017 07:00 WIB
keluarga
Penyebab di Pedesaan Rentan Terjadi Perkawinan Anak
Anak dari Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BAPERMAS PP PA dan KB) Kota Surakarta dan Forum Anak Surakarta menggelar kampanye Anti Pergaulan Bebas dan Cegah Pernikahan Dini. Antara/Maulana Sur

Metrotvnews.com, Jakarta: Pernikahan dini di pedesaan cukup sering terjadi. Berbagai alasan memicu terjadinya perkawinan anak yang melibatkan anak perempuan berusia di bawah 18 tahun.

Amrullah selaku Child Marriage Program Manager dari organisasi non profit Plan Internationa Indonesia menyebutkan ada beberapa permasalahan akar dari fenomena tersebut.

"Pertama, suara dari anak perempuan tidak didengar oleh orang sekitar atau keluarga. Inilah mengapa salah satu program untuk mencegah perkawinan anak adalah dengan mengadakan forum anak agar bisa bersuara," paparnya dalam sebuah media diskusi, Rabu (27/9/2017).

Kedua, arus informasi yang tak mudah dijangkau menjadi penghambat yang cukup krusial dimana anak perempuan tak bisa mendapatkan pengetahuan terkait kesehatan atau apa yang akan dihadapi saat telah kawin kelak.

Ketiga, adanya nilai dan norma yang dinilai membahayakan anak perempuan. Peran yang berganti menjadi istri, ibu, dan pengurus rumah tangga akan memberikan beban dan tanggung jawab tersendiri bagi anak perempuan yang belum genap berusia 18 tahun tersebut. Hal itu bisa memberi pengaruh buruk pada kesehatan, baik fisik maupun mental.

Kemudian, terdapat ketidaksetaraan yang jelas terlihat dalam hal pendidikan. Contoh paling umum adalah anak perempuan yang telah lulus Sekolah Dasar cenderung langsung diminta untuk kawin tanpa memikirkan keinginan untuk melanjutkann ke jenjang yang lebih tinggi. Tentunya hal tersebut menunjukkan bagaimana kesenjangan pada anak perempuan menjadi hal yang wajar.

Di satu sisi, Amrullah berpendapat bahwa perkawinan anak pada dasarnya bisa dicegah dengan cara memberikan edukasi pada orang tua anak, terutama ayah.

"Jika melihat dari budaya Indonesia yang kebanyakan menganut sistem partriarki, ayah adalah pembuat keputusan, apakah ia mau mengawinkan anak perempuannya atau tidak," ujar Amrullah.

Oleh karena itu, sistem pendekatan yang dianggap cukup ampuh adalah memberikan edukasi ke orang tua pria secara langsung terkait dampak negatif perkawinan anak. Sayangnya, strategi ini masih jarang dilakukan.

 


(DEV)