Newsline

Selfie, Bentuk Pengalihan Seseorang terhadap Tekanan

   •    Rabu, 26 Apr 2017 17:31 WIB
psikologi
<i>Selfie</i>, Bentuk Pengalihan Seseorang terhadap Tekanan
Ilustrasi. (Foto: AP)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kemunculan media sosial sebagai implikasi kecanggihan teknologi mau tidak mau membuat swafoto atau selfie ikut ambil bagian di dalamnya. Sayangnya, makna selfie saat ini telah bergeser dari yang hanya untuk bersenang-senang menjadi sarana untuk mengalihkan perhatian seseorang dari tekanan.

Psikolog Poppy Amalia melihat, tren selfie tidak hanya melibatkan orang dewasa, remaja justru mendominasi tren swafoto tersebut di berbagai media sosial.

Menurut Poppy, tumbuh kembang yang masih labil dengan hormon yang meletup-letup membuat remaja mencari semacam pengakuan diri dari kegiatan tersebut. Fisiknya, juga hormon yang sedang berkembang membuat kognitif remaja berkembang.

"Kemudian dia mencari identitas diri, siapa dia mulai dicari," kata Poppy, dalam Newsline, Rabu 26 April 2017. 

Menurut Poppy, remaja yang tumbuh dengan baik di lingkungan bersama orang tuanya, biasanya tidak akan pernah lari ke media sosial atau tempat yang kurang baik sebagai sarana pengalih perhatian. Ironisnya, ketika remaja tumbuh jauh dari orang tua, mereka akan mencari akses termudah dan mencontohnya untuk mendapatkan perhatian orang lain.

Poppy mencontohkan dari ponsel, bisa kapanpun, mau cari data apapun, pada saat mereka kebingungan ditambah tekanan dari sekolah atau lingkungan dan tidak tahu bagaimana solusinya, remaja akan melihat media sosial dan mencontoh perilaku tokoh 'idola' yang dianggap sama dengan dirinya. 

"Begitu dia melihat media sosial, oh tokohnya melakukan ini, saya juga akan melakukannya. Dengan harapan mendapatkan like lebih banyak lagi," kata Poppy.

Tetapi, ketika remaja tersebut tidak mendapatkan apa yang diharapkan, mereka akan mencoba hal lebih ekstrim bahkan tak jarang mengancam nyawa sebagai pembuktian diri. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan 'like' yang tidak mereka peroleh ketika berada di lingkungan bersama orang tua. 

"Kalau misalnya tidak dipenuhi, tidak diselesaikan dengan orang tua, itu akan bertambah. Dia akan do anything apalagi kalau dia public figure dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan popularitas," katanya. 

Bahkan, kata Poppy, untuk mendapatkan popularitas, seseorang bukan lagi menjual prestasi, melainkan penampilan, status sosial, bahkan kemewahan. Mereka melakukannya secara emosional dengan menunjukkan hal-hal berkaitan dengan kecantikan, kelucuan, seksi, bahkan yang ekstrem.

Solusinya, lanjut Poppy, remaja yang sudah terjangkit virus selfie dan memerlukan perhatian harus diberikan teman secara nyata. Teman-teman inilah yang akan mengingatkan bahwa apa yang dilakukan tidak baik atau berlebihan.

Kemudian, ketika hal itu terjadi saat dewasa, Poppy menyarankan agar seseorang mau flashback apakah di masa lampau memiliki masalah dengan ayah atau ibu, dan selesaikan persoalan itu.

"Karena kalau tidak selesai maka dia kan terus berusaha menarik perhatian dari siapapun. Misalnya masalah dengan ayah dia akan berusaha menarik perhatian laki-laki, bentuknya sexy, kecantikan, kegenitan, tujuannya get attention dari laki-laki, dan sebagainya," jelasnya. 




(MEL)