Ini Penyebab Ambisi Bekerja Menghilang Menginjak Usia 30-an

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 02 Jun 2017 14:26 WIB
karier
Ini Penyebab Ambisi Bekerja Menghilang Menginjak Usia 30-an
Menurut McCrindle, generasi Y memiliki ilusi dimana mereka bisa puluhan tahun fokus berkerja di mana mereka harus merasakan berbagai pengalaman selama tubuh masih sehat dan aktif. (Foto: Archinect)

Metrotvnews.com, Jakarta: Apakah Anda mulai kehilangan semangat bekerja ketika sudah berusia kepala tiga? Jika ya, hal tersebut tak mengherankan. Sebuah penelitian menemukan bahwa kebanyakan pekerja kehilangan ambisi mereka untuk mendapat promosi atau tanggung jawab dalam pekerjaan saat menginjak usia 35 tahun. 

Peneliti sosial Mark McCrindle tak heran dengan fenomena tersebut. Tak seperti generasi sebelumnya, yang memulai keluarga saat  berusia 20-an, McCrindle mengatakan bahwa wanita Australia saat ini tak memiliki anak hingga berusia 31 tahun dan pria juga demikian pada usia 33 tahun. Artinya, generasi sekarang menghabiskan waktu mereka untuk bekerja saat berusia kepala 2. 



"Saat seseorang sudah menginjak usia 30-an, mereka merasa sudah bekerja dan belajar keras selama hampir 15 tahun. Hal tersebut tentunya melelahkan sehingga mereka ingin mendapatkan lebih dari itu dan mulai muncul perspektif yang lebih luas," tukasnya. 

Selain itu, McCrindle menambahkan, generasi yang telah berusia 30-an juga mendefinisikan sukses dengan makna tersendiri setelah melihat perjuangan orangtua mereka mendapatkan materi. 

"Di tahun 80-an dan 90-an, sukses diukur dari memiliki mobil merek mahal dan jam Rolex, namun definisi keberhasilan dan prestasi semakin luas. Jika seseorang sukses secara karier namun kesehatan mereka buruk dan tak memiliki kegemaran, maka hal tersebut tak cukup berarti," terangnya. 

(Baca juga: Usia 20an Lebih Baik Fokus Karier daripada Percintaan)

Menurut McCrindle, generasi Y memiliki ilusi dimana mereka bisa puluhan tahun fokus berkerja di mana mereka harus merasakan berbagai pengalaman selama tubuh masih sehat dan aktif. 

"Ini adalah perspektif yang sehat dimana tak hanya kekayaan yang dipikirkan, seperti pemikiran orangtua mereka," simpulnya. 



Salah seorang peneliti sosial Lauren Rosewarne dari University of Melbourne mengatakan bahwa generasi Y juga berpendapat bahwa jam kerja yang panjang adalah sia-sia. 

"Mereka lebih memilih jam kerja yang lebih ramping dan produktif," ungkapnya. 

Ia menduga, ambisi mereka telah mengalami rekonseptualisasi dimana jam kerja lembur tidak lagi dipandang sebagai pencapaian tujuan dan hanya menyebabkan kelelahan dan tidak produktif. 







(TIN)